FF Choi Chronicles Chapter 6: Nice. Strange. Unusual.

Andrew memandangi taman belakang rumah dari balik jendela ruang kerjanya. Teringat semalam ia kembali terjaga, tak tidur semalaman. Memori otaknya selalu memunculkan kembali kilasan memori yang minggu kemarin terjadi secara tidak terduga. Ia juga tak pernah mengharapkan hal semacam itu terjadi di waktu seperti ini, dengan gadis seperti dia.

 

 

But those eyes, those black round eyes. He’s losing his sanity just by looking at it. It has ruined his sleeping time, his hectic schedule, and he realizes something big.

His life will never be the same again.

Unless he accept the fact that he had fallen for her.

 

Tapi mata itu,

Ia kehilangan kewarasannya, hanya karena memandang kedalamnya. Tatapan itu telah mengacaukan waktu tidurnya, jadwalnya yang begitu banyak dan penuh.

Membuatnya tersadar, juga terbangun. Hidupnya tak akan pernah sama lagi. Kecuali ia meneriam kenyataan bahwa ia telah jatuh hati padanya…pada gadis itu…

 

Keesokan harinya, ia mencoba untuk menenangkan pikirannya dengan memandangi bunga-bunga di taman. Berharap hal tersebut bisa menghapus atau malah menggantikan hal yang mengganggu waktu istirahat nya semalam. Andrew berusaha dan….

 

“Ada yang aneh denganmu belakangan ini, And..”

 

Sebuah suara menginterupsi Andrew yang asyik dengan dunianya. Tanpa berbalik, ia tahu siapa pemilik suara itu. Asisten yang telah menemaninya hampir selama karirnya, bahkan sebelum itu.

“Berubah?” sahut Andrew, masih memandangi bunga-bunga di taman belakangnya yang tertata indah. Ia teringat ibu. Betapa beliau begitu menyayangi bunga-bungaan yang ditanam dengan tangannya sendiri. Dan kini, tugasnyalah untuk merawat apa yang diwariskan Ibu. Sungguh ia ingin lebih sering melakukan itu, tapi pekerjaan menuntutnya untuk selalu berada di luar rumah.

 

“Lebih sering melamun..”’

 

Perkataan Joshua jelas cukup menarik perhatian Andrew sampai membuat pria yang lebih muda itu menoleh. “Untuk apa aku melakukan hal seperti itu, Josh? Apa itu bisa menambah profit perusahaan?” kata Andrew sambil mengerenyitkan dahi.

 

Joshua tertawa mendengar joke penuh unsur sarkasme tersebut.Mengingat ini Andrew, hampir pasti yang mampir di otaknya hanya dua, masalah pekerjaan atau keluarga. Selain itu, tidak ada ruang untuk masalah lain. Ataukah sebenarnya, pikiran ketiga sudah menjelajahi otaknya? Joshua hanya bisa mengulum senyum.

“Oke, kau hanya sedikit berubah.. Tidak semua merasakan perubahan itu, tapi masa kau mau menghindar dari temanmu sejak SMP sepertiku? Aku tahu, warisan paling berharga yang diturunkan ayah padamu, keeping people see your good image..”

“Kau melantur..”

“Your majesty,” Josh meledek Andrew, “I knew what happened to you last week, and you’ve changed ever since. I don’t say it, but I just knew it.. ”Tuanku, aku tau apa yang terjadi padamu minggu lalu, dan kamu berubah sejak saat  itu. Mungkin aku tidak bilang apa-apa, tapi aku tahu.

Andrew sedikit terganggu mendengarnya, tapi Josh tahu lebih dari pada itu.

“It was nothing, silly!” Itu bukan apa-apa, bodoh

“And, let me tell you this,” Josh melipat kedua tangannya di depan dada, mengobservasinya,Dan aku akan memberitahumu satu hall

“Aku, Dennis hyung, Aiden, Nathan, bahkan si magnae Marcus menunggu-nunggu hal itu, tapi takdir memilihmu dengan’nya’.

“Stop talking nonsense!” Seru Andrew, ia cemas Josh menyebut nama’nya’. Omonganmu tidak masuk akal

“Bwah, nonsense? You’re denying your fate..”Tidak masuk akal? Kamu mengingkari takdirmu

Tak ingin berdebat lebih lama dan mendengar apa yang ia anggap sebagai penghinaan  lebih lama lagi, Andrew mengancingkan jasnya, bersiap untuk turun. “Siapkan berkas untuk meeting siang ini, aku ingin mengeceknya.”

“Already done,” Joshua mengangsurkan map biru ke depan Andrew, “And just to refresh your memory, your Dad has never denied his thunderbolt, unlike you…”Sudah siap. Ingin mengingatkanmu saja, Ayah tidak pernah menolak thunderboltnya bukan sepertimu yang sok jual mahal.

“Who said that it was a thunderbolt?! You’ve made your own conclusion. Now go live with it”Siapa bilang itu adalah thunderbolt?! Kau membuat kesimpulan sendiri. Silahkan bertahan dengan keyakinanmu.

Andrew mengambil map biru dihadapannya.

“Omo~ You’re talking to wrong guy! You’re the one who has it inside you now, mister!” Kau berbicara pada orang yang salah!. Kamu yang memilikinya sekarang, tuan!

 

“Oppa, can I have cornflakes for my breakfast?” pinta Jules pada Dennis di bar dapur, ia menaruh sikunya di atas meja sementara kedua tangannya menopang dagu.Oppa, aku ingin cornflakes untuk sarapan. Boleh?

Dennis berbalik, heran. Kedua tangannya masih sibuk mengaduk adonan pancakes. “Eung? Kau tidak suka pancakes?”

“Aniyo,” Julia menggeleng, “Aku cuma sedang ingin makan cornflakes, boleh kan?”

“Anything for you,dear… Dennis tersenyum mengiyakan. Ia menaruh secangkir teh di depan Julia. Tapi sekarang, Dennis melanjutkan, bisakah tolong aku untuk taruh Earl Grey ini di meja?”

“Oke…”

Jules mengambil cangkir teh itu, asyik mengamati motif English rose* di cangkir itu, karena begitu menarik perhatiannya….

 

 

sampai tidak sadar kalau ia menyenggol kursi makan, membuatnya kehilangan keseimbangan…..

 

“ARGHH!!”

Bresss…….

 

Isi cangkir cantik itu, Earl Grey Tea*, sudah berpindah ke jas seorang pria yang duduk di kursi makannya. Teh hangat itu sekarang hanya meninggalkan noda basah dan kecokelatan di jas Andrew yang terkancing rapi.

 

 

“Bloodyhell”

 

“Sorry..” Gumam Jules, merasa bersalah. Ia tahu rasanya ketumpahan minuman di salah satu setelan terbaik, sungguh menyebalkan. Dan ia sudah sangat siap menerima semprotan dari si monster tukang omel di depannya.

 

Jules menggigit bibirnya dan menatap Andrew takut. Sebaliknya, saat Andrew secara tidak sengaja bertemu mata dengan Jules, ia hanya menghela nafas dan membuka jasnya, mengekspos kemeja putihnya yang pas badan.Ia berusaha mati-matian untuk bersikap biasa saja, karena ia tidak ingin Julia tahu kalau ia sungguh ingin…..Ia berpura-pura sibuk melihat jas nya yang kotor terkena tumpahan air teh.

Melihat pria di hadapannya hanya dengan kemeja yang membentuk tubuh atletisnya, Julia menahan nafas. Ia menekan dadanya, detakan itu terlalu cepat. Out of her control. Julia langsung mengambil lap makan yang ada diatas meja bermaksud membersihkan tumpahan teh tersebut, karena bagaimanapun memang ia yang salah. Ia bersiap menunggu reaksi apa yang akan terjadi

 

Andrew melipat kembali koran yang tadi sedang dibacanya, seraya mengambil lap tersebut dari tangan Julia. Ia bahkan memberanikan diri melirik ke arah Julia.

 

 

No, Adams. I won’t let you do that.Cause somehow my heart says no.(Aku tidak akan membiarkanmu membersihkannya, karena hatiku mengatakan ‘tdak”)

“Fine, i’ll change..”Baik,aku ganti baju saja

Tuan sombong itu pergi, meninggalkan Jules yang bengong.

Kenapa dia tidak marah?Lalu,kenapa aku sulit bernafas?.Oh My God, control yourself, Miss! It’s Andrew Choi!

Sementara Julia berusaha mengelak, Andrew tidak dapat menahan senyum, yang keluar begitu saja dari bibirnya, tanpa diminta.

“Aish! I can let Josh win!” Aku tidak boleh membiarkan Josh menang!

 

Marc mematikan televisi. Program berita pagi ini telah selesai. BBC,CNN dan ABC menyiarkan berita-berita yang hampir sama. Kilasan berita dari berbagai belahan dunia yang disajikan apik. Tapi bukan hal itu yang sebenarnya dipedulikan Marc. Yang ia tunggu adalah apa yang disiarkan stasiun televisi lokal.

Untunglah, di detik terakhir ia bisa menarik nafas panjang. Kekhawatirannya tidak terbukti. Semua berakhir sebagai kecemasan semunya yang berlebihan.

Marc melirik sekilas ke arah jam dinding. Jam 12. Berarti masih setengah jam lagi sebelum Dennis hyung selesai menyiapkan makan siang. Mungkin tak ada salahnya melihat-lihat kumpulan koran lama. Di samping itu, Marc juga sudah lama tidak membaca surat kabar dari negaranya sendiri.

Ia mengambil tumpukan paling atas, lalu membalik-baliknya. Melanjutkan mengambil yang lain sampai sesuatu membuatnya kaget. Berita itu tidak berparagraf banyak, bukan juga headlines. Cukup dua kata yang menjadi judulnya.

Black Gloves.

Baru sampai paragraf pertama, ia menolak untuk membaca semua beritanya. Sudah pasti mengerikan. Jadi, asumsinya tadi salah. Kecemasannya jelas tidak semu, apalagi berlebihan. Terakhir, Marc mencoba mengaitkan semua peristiwa yang terjadi belakangan ini. Kapan terakhir kali hyung-nya kesal terhadap seseorang….

Oh…Marc sudah tau jawabannya.

Rekanan bisnis tidak ada artinya dibanding oplah ribuan eksempelar. Marc tersenyum kecut.

 

Pikiran Marc terusik oleh langkah-langkah kaki yang terdengar menuruni tangga, diiringi wangi feminine yang menyerbu indra penciuman Marc. Kedua kakak beradik Adams terlihat olehnya, sedang berjalan menuju lantai bawah sambil mengobrol. Mereka mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung dan jeans, tapi dengan warna yang berlawanan. Dee mengenakan kemeja biru tua dengan jeans putih sementara Jules sebaliknya. Sentuhan terakhir, mereka memilih flat shoes untuk alas kaki.

Smart, gumam Marc dalam hati.

 

“Good morning!” Sapa mereka sesampainya di bawah. Marc hanya menjawab dengan senyum kecil. Dee dan Jules berjalan menuju ruang TV., mendekat ke tempat Marc sedang duduk sekarang. Membuat perasaannya jadi tak menentu.

 

Sebelum semuanya terlambat, Marc telah lebih dahulu mengambil diam diam Koran yang baru saja dibacanya, ia menjatuhkannya ke lantai lalu menendangnya ke kolong sofa.

 

Aman.

 

“Srek…” Benar saja firasatnya, Dee mengambil koran yang ada di bagian atas

“Ada tidak onn?” Tanya si adik pada kakaknya, Marc agak khawatir aksinya ketahuan.

“Aneh sekali.” Si kakak menjawab. “Senin, Selasa, Rabu bahkan Jum’at juga ada disini.tapi aku tidak melihat edisi Sabtunya.”

“Ditumpukkan yang lain mungkin?” Jules menelengkan kepalanya, mencoba melihat kakaknya untuk memberi ide.

Dee menggelengkan kepalanya. “Padahal minggu ini ada resep Cheese Croissant, dan aku sudah janji pada Dennis oppa…”

Marc merasa bersalah.

Menyembunyikan ‘black gloves’, menghilangkan resep cheese croissant.

“Juga liputan khusus MFW, ada lulusan parson yang mulai menjajal peruntungan di Milan, gosh! Seharusnya dia sunbae-ku sekarang, kalau saja Dad mengizinkanku pindah ke new york!” Wajah Julia yang berubah menjadi sedikit kesal membuat Marc jadi tidak enak.

Menyembunyikan ‘black gloves’, menghilangkan liputan Milan Fashion Week.

‘Tapi aku juga tidak bisa membiarkan mereka tahu akan pembunuhan itu.’ Marc terjebak dalam sebuah dilema.

Sampai akhirnya memutuskan untuk…

“bagaimana kalau kita melihat-lihat di toko buku. I’m treating you girls!”

“HAH?” Jules dan Dee kaget mendengar pria yang mereka patung itu bicara. Terlebih mengajaknya ke toko buku. Treating them, no less! Mereka seolah mendengar sesuatu yg luar biasa. Tak mengerti harus berkata apa.

“Aku pamit dulu pada Dennis hyung. It won’t take a year, I promise..” Marc mencoba bercanda. Dee dan Jules hanya bisa berpandang-pandangan. Mereka ditinggalkan Marc yang hilang di balik tembok ruangan.

“Apa itu, I’m treating you girls? GIRLS?” Jules menekankan kata terakhir. “dan masa dia ngga nanya kita mau apa enggak diajak ke toko buku?”

“Tidak tahu, tidak tahu….” Dee mengangkat bahunya. Ia memindahkan chanel TV dan mengacuhkan adiknya yang masih menatapnya bingung. Ia mulai mengoceh sendiri.

GIRLS? ‘Was i talking to Marcus Choi back then?‘Apa aku berbicara dengan Marcus Choi tadi?

 

—–‘

Setelah yakin bahwa kedua nona Adams itu percaya akan kata-katanya, Marc lalu mengambil sebuah buku telepon,mulai mencari sebuah nomor dengan posisi telepon diapit di antara tangan dan buku telepon.  Dengan kemampuan scanningnya, ia menemukannya dengan sangat cepat dan langsung men-dial nomor itu.

 

“Annyeong haseyo, it’s Border here. What can I do for you?Apa yang bisa kami bantu?

Sapa suara di seberang telepon. Ramah dan bersahabat. Sambutan yang memang selalu didapatkannya jika menghubungi toko buku kelas internasional seperti Borders.

“I need you to do a special favor..”Aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku

“Sorry,” nadanya terdengar ragu, “But who’s talking?”Maaf, tapi dengan siapa saya berbicara?

“Marcus…Choi.”

Sebenarnya ini sama sekali bukan gaya Marcus. Apalagi setiap ia menyebut, “Choi” wajah orang yang mendengarnya akan berubah ketakutan. Yang paling parah, Marc jadi terlihat seperti Andrew. Sungguh ia benci. Sayang, ini bukan hal yang dapat ditolerir dan diselesaikan tanpa campur tangan nama keluarganya.

“A-apa yang bisa kulakukan, tuan?”

“Aku akan berada di toko bukumu dalam empat puluh lima menit, bersama dengan dua orang gadis. Mereka mencari koran hari ini. Di mana gudangmu?”

“Itu di…”

“Bagus. Masukkan semua stok yang kau punya. Every single paper. Jika mereka bertanya, bilang saja tidak ada karena..” Marcus kehabisan ide.

“Habis?”

“Brilian! Cepat masukkan semuanya ke dalam gudangmu.” Marc menghela nafas, lega. “Maaf membuatmu repot seperti ini..”

“Tak apa Tuan, senang bisa membantu”.

‘klik’

 

-end of conversation-

 

Marc mengintip kedua adik kakak itu dari balik meja dapur. Keduanya masih asyik menonton TV. Dennis menyenggolnya.

“Done?”Beres?

“Yeah..” sahut Marc dengan senyum yang dipaksakan.

 

 

Nissan Armada itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan bergaya minimalis dengan dinding yang terbuat dari kaca. Di atas pintunya tercetak jelas dengan huruf besar, “BORDERS”.

Mereka sampai, Marc agak cemas.Marc melihat ke arah penjaga kasir,ia tersenyum mengerti sambil mengangguk sedikit.

Kedua kakak beradik itu turun, diikuti Marc di belakang mereka. Lonceng pintu berbunyi ketika pintu dibuka, seorang penjaga toko  menyapa mereka.

“Good afternoon, welcome to Borders!” Penjaga toko buku itu tersenyum, “Need some help?”Selamat sore, selamat datang di borders. Apa yang bisa kami bantu?

“Good afternoon. Ya, actually we’re looking for last week’s edition of this newspaper”, kata Dee sambil menyebutkan hari dan nama koran yg mereka cari, “Do u have any?”Selamat sore. Ya, sebenarnya kami mencari edisi mingu lalu dari koran ini. Apa kalian punya?

Pelayan itu sesaat tampak ragu dengan pertanyaan Dee, membuat Marc khawatir. Tapi pelayan itu malah kembali menyunggingkan senyum, “Maaf nona,toko kami tidak menjual koran, Borders hanya menjual buku dan majalah..”

 

Marc mendengus, bagaimana ia bisa lupa kalau Borders memang tidak menjual Koran? Akhirnya, Marc hanya bisa menyalahkan kepanikannya. How stupid.

“Oh.. Buku resep?” Tanya Dee lagi, Jules menyahut, “dan majalah?”

Penjaga toko buku tersebut mengangguk,tangannya bergerak gerak mendireksikan tempat. “Resep di lorong ketiga, ujung sebelah kanan. Rak majalah ada di lorong belakang kasir..”

“Thank you..”

Dee dan Jules berkata bersamaan, mereka tertawa satu sama lain dan langsung melesat menuju tempat yang dituju. Marc ditinggalkan di pintu masuk.

 

 

“Hi noona, sudah menemukan buku resep yang cocok?” Dee terhenyak mendapati seseorang berdiri di sampingnya, Marc sedang melihat-lihat buku resep di rak. “Hi Marc, aku belum menemukannya, masih mencari…”

Ia menaruh buku resep yang sedang dipegangnya itu lalu beralih menatap Dee. “Kau belum pernah membuat croissant sebelumnya?”

Dee menggeleng. “Belum. Maka dari itu aku tertarik untuk mencoba”

“Aku bersedia jadi orang pertama yang mencobanya, kalau-kalau Jules menolak…” tawar Marc dengan senyumnya. Agak canggung memang, tapi ia tak mau ambil pusing.

“Hahahahaha.. That’s an interesting offer. I’ll consider it..”Tawaran yang menarik. Akan kupertimbangkan.

Tak disangka Dee, respon Marc diluar estimasinya, “Please do. I’ll be waiting”Aku akan senang sekali, dan tidak keberatakan untuk menunggu.

‘Kenapa dengan anak ini? Tiba-tiba ia sangat ramah dan banyak bicara. Bukan seperti Marc yang kukenal. Is there something wrong with him?’. Dee membatin.

“By the way, aku punya cerita tentang darimana croissant berasal. Noona mau dengar?”

Dee menampilkan senyum ragu, tapi ia mengangguk. “Silahkan.. “

Marc melipat tangannya di depan dada, menggali ingatan tentang separagraf bacaan di brosur bakery milik keluarga temannya di London “Croissant tidak berasal dari Prancis, tapi dari Austria. Namanya Kipferl. Bentuknya bervariasi, biasanya diisi dengan kacang.Bentuk dan jenisnya juga tidak seperti sekarang. Sebelum Dee sempat menanggapi, Marc sudah menjawab,

“Tapi aku yakin rasanya pasti tidak seenak buatan Noona”

“Oh ya ampun Marc, aku bahkan belum menemukan buku resepnya…..” Dee tertawa hambar, tidak siap dengan reaksi Marc.

Marc hanya mengulas senyum hangat lalu berbalik, “Cari yang paling cocok, nanti buatkan untukku :)”

Pria itu meninggalkan Dee dan berjalan menuju rak di belakang kasir. Ia berdiri di samping seorang gadis dan mengambil Edisi tebaru National Geographic.

 

“NYFW, eh?” New York Fashion Week, eh?

Kata kata Marc membuat gadis di sebelahnya terlonjak kaget. A second she’s alone, second later someone’s standing beside her.

“Marc you’re scaring me!” Marc, kau mengangetkanku!

“Oops sorry,” Marc mengangkat kedua tangannya, “I have no intentions to do so.. Aku hanya tidak tahu kau tertarik dengan dunia fashion, maksudku..”Oops maaf, sama sekali tak bermaksud seperti itu.

“I don’t wear something stylish nor branded, right?” Jules menatap Marc,tersinggung.  “Designers make trend, they don’t need to wear it…”Apa karena aku tidak terlihat modis atau memakai sesuatu yang bemerk? Para desainer menciptakan trend, tidak perlu bagi mereka untuk memakai hasil karyanya sendiri.

Marc diam. Si adik memang selalu sarkastik seperti ini. Marc maklum, toh dirinya juga si bungsu yang jauh dari kata ramah. Dan Jules, meski mereka sama sarkastik, tapi Marc sadar gadis ini lebih hangat, tidak dingin seperti dirinya.

“Jules…”

“Ya?” Jules menyahut acuh tak acuh, tetap konsentrasi pada majalahnya.

“Boleh aku tau kenapa kau suka dipanggil Jules? Semua temanku yang bernama Jules adalah laki-laki.”

‘What the hell with this guy? He talks too much! Ada apa dengan pria ini? Ia mendadak cerewet sekali!’ pikir Jules

“Because that’s the way my friend calls me, and I like it”Itu cara teman-temanku memangilku, dan aku menyukainya.

Jules menutup majalahnya, sekarang ia berdiri menghadap Marc dengan tangan terlipat di depan dada, memandangnya angkuh. “Kau sendiri? Apa kau suka dipanggil Marcus?”

“Eum, tidak juga. Marc terdengar lebih keren. Lagipula nama sebagian besar orang biasanya Mark, bukan Marc. Jadi namaku ditulis tidak biasa bukan?”

“Berbeda, bukan biasa. Dan lagi pelafalannya masih sama saja kan?” diliriknya pria itu dari balik majalah yg dibacanya, “Anyway, apa kau sudah minum susu pagi ini?”

“Belum, entah bagaimana stok di lemari pendingin bisa habis! Ingatkan aku untuk meminta Dennis hyung menambah stok!”

Jules tersenyum paksa, mengambil lagi majalah yang tadi dilipatnya dan mengabaikan Marc.

‘Pantas saja, dia kekurangan asupan susu, aku bisa maklum sikapnya abnormal’

 

 

Dee melihat Jules yang membawa 4 buah majalah sekaligus. Matanya jadi menyipit. Di tangannya, ia hanya memegang sebuah buku resep. ia memberikan tatapan yang hanya bisa dimengerti adiknya. Semacan private conversation.

“Kembalikan,itu terlalu banyak!”

“Kenapa? Apa aku salah?”

“Kembalikaaaaan!…”

Jules sudah berbalik siap mengembalikan majalah-majalah itu ketika tangan Marc menahannya. “Jules, mau kemana? Sudah ambil saja semua”

“Yehehehehe..rasakan kau DeeDee…” Jules meleletkan lidahnya.

“Noona, tak apa apa kok” Marc berkata seolah bisa membaca ‘telepati Adams’ diantara dya dan adiknya. Ini, aku sudah ambilkan satu lagi untukmu. Jangan menolak yaa…” Marc menaruh satu buku bersampul coklat diatas meja kasir.

Dee bisa merasakan mata Jules menatap tak percaya dari balik punggungnya. Dee tahu kalau Jules pasti kaget dengan tindakan Marc, sama seperti dirinya. Dee melirik sekilas ke arah sang adik,

 

He barely even spoke to anyone in the house. And now, he’s being so nice all of a sudden? Can’t you see what he just did? Julia mengarahkan telunjuk ke arah si mahasiswa Oxford. Orang ini jarang berbicara , bahkan pada orang-orang yang tinggal di rumahnya sekalipun. Kenapa tiba-tiba ia jadi baik sekali pada kita? Apa kamu tidak lihat tindakannya barusan?

‘Maybe something has gotten into him lately, and we should be grateful for it” Dee melakukan gerakan, menurunkan kedua bibirnya ke bawah. Mungkin sesuatu telah terjadi padanya *ke arah yg lebih baik*, dan kita harus bersyukur untuk itu.

“Hmm,sepertinya kalian terlibat pembicaraan rahasia“,suara Marc mengagetkan mereka.

 

 

Jules dan Dee langsung bersikap biasa saja.

Aku sudah capek dibuat penasaran. Ayo kita pulang!” .Tanpa dipaksa, diminta dan ditanya,Marc merangkul Jules dan DeeDee, berjalan keluar toko yang terang saja semakin kaget.

 

Tadi pagi Andrew berubah menjadi orang paling pengertian, sekarang Marc bersikap seolah dia pria paling menyenangkan di dunia.

Can someone please tell us why? Kedua kakak beradik Adams itu hanya bisa menghambiskan nafas dan menerka-nerka.Huff…

 

……..

Pria dalam Porsche itu memerhatikan gerak-gerik orang yang baru keluar dari toko buku dengan seksama. Ia melepas rayban nya agar bisa melihat sosok-sosok itu lebih jelas. Setelah yakin, ia mengambil telepon genggam yang ada di sakunya, menekan speed dial 2 dan menaruhnya di telinga. Belum sepuluh detik, sebuah suara menyahut.

“Yes, Bryan?”

“Hyung, his brother is here now, He’s back from London” Hyung, adiknya telah kembali dari London

“Owh you mean his little brother Marcus?”  Marcus, maksudmu?

“Yes.. And he’s…”  Bryan ragu, apa harus ia mengatakan bahwa Marc sedang bersama dengan para gadis itu?

“Ya? Ada apa dengannya?”

“There’s something unusual,but we better discuss about it later”.Ada yang aneh, tp sebaiknya kita diskusikan ini nanti.

“Hmm.. nice job anyway, my bro. Leave it all to Jim. You need some rest after the flight” Kerja yang bagus, adikku. Searahkan urusan selanjutnya kepada Jim. Kamu perlu istirahat

“Fine..” Baik

Hubungan diputuskan.

Belum saatnya hyungnya tahu masalah The Adams. Lagipula mungkin mereka hanya bertemu secara tidak sengaja di toko buku. Tidak berarti para gadis itu punya hubungan dengan keluarga Choi yang ambisius dan tak kenal ampun itu.

Ia memandang ke arah mereka sekali lagi…. Tapi matanya hanya tertuju pada satu orang.

 

‘JC, how are you? It’s been a long time…’

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s