Choi Chronicles – Chapter 7 : Secret

“Aigooo~” Dennis menepuk kepalanya. Ia baru akan ke ruang tamu ketika ia melihat sebuah clear holder tergeletak di meja patio.

“Wae geurae?”

Dennis menoleh dan melihat Dee berdiri di belakangnya dengan sebuah sekop yang biasa dipakai untuk bercocok tanam dan apron yang berlumuran tanah. Tampaknya gadis itu baru saja selesai berkebun.

“Andrew meninggalkan berkas ini di meja patio. Padahal ini adalah berkas yang harus ia presentasikan siang ini di depan investor penting.”

“Kenapa tidak kau antarkan saja ke kantornya?” kata Dee menyarankan.

“Aku ada janji dengan Casey, sepupu Andrew. Aku yakin Casey tidak akan mau menunggu keterlambatanku meski itu demi kebaikan sepupunya..”

Dee menatap dennis dari atas ke bawah. Pria di hadapannya ini memang terlihat sudah punya janji, dandanannya menjelaskan begitu. “Lalu bagaimana?”

“Mollasseo!” Dennis tampak berpikir sejenak. “Ah, kau saja yang mengantarkannya!”

“Mwo?” mata Dee membulat.

Mengantarkan berkas ke kantor Andrew sama saja dengan bunuh diri, batin Dee.

“Aku akan mengantarkanmu ke kantor Andrew, kau tinggal mengantarkannya ke ruangan Andrew. Aku akan menelepon bagian lobby untuk membantumu..”

Dennis memberikan tatapan memohon yang irresistible di mata Dee.

“Tolonglah…”

 

 

“Dennis-oppa..” panggil Dee pelan. Kini mereka berada tepat di depan kantor Andrew. Dee masih duduk di kursi penumpang di samping Dennis. Ia bahkan belum melepas seatbelt-nya.

“Aish, kau tak perlu takut.” Kata Dennis menenangkan. “Kau akan diperlakukan dengan baik di sini. Sekarang masuk dan berikan berkas itu sebelum Andrew murka, ok?”

Walau ragu dan tampak enggan, Dee melepas seatbelt dan membuka pintu mobil. Ia menurunkan sebelah kakinya namun kembali berbalik ke Dennis.

“Dee, ini tempat umum, kau bisa langsung berteriak kalau ada apa apa..” kata Dennis mencoba untuk menenangkan Dee (lagi). Dennis agak konyol melihat gadis ini begitu gugup.

Dee menghela nafasnya panjang lalu keluar dari mobil. Ia berjalan menuju kantor tersebut dengan agak cepat. Agak canggung juga masuk ke kantor yang asing di mana semua orang menatapnya aneh karena tadi ia turun dari mobil mewah Dennis. Hampir semua orang mengenal siapa Dennis, tapi mereka belum pernah melihat si putri cantik yang baru saja turun dari mobil itu.

“Excuse me.” Sapa Dee sopan ketika ia sampai di bagian resepsionis. Sang resepsionis adalah seorang wanita muda cantik dengan rambut panjang tergerai. Sayang, dari sekali lihat, Dee tahu attitude wanita itu tak secantik penampilannya.

“Yes, may I help you?” katanya tanpa berpaling dari layar ponselnya. Ia tampak lebih focus mengetik pesan singkat daripada menunaikan tugasnya sebagai pegawai yang baik.

“I’m Dee Dee Adams, and I need to see Mr. Andrew Choi. I got his file and I want to give this…” [hai, saya DeeDee, saya ingin menemui Andrew Choi untuk memberikan file ini padanya]

“Oh, Miss Adams.” Wanita muda itu tampak sekali langsung mengubah sikapnya ketika mendengar nama belakang Dee. Ia yakin Dennis sudah mengonfirmasi kedatangannya. Sampai kapan feodalisme akan terus mengakar dalam budaya bangsanya?

“Mr. Choi awaits you in his room.” [Tuan Choi menunggumu di ruangannya.]

“Awaits me?” Dee mengerutkan keningnya. Bukankah Dennis bilang tadi ia hanya akan memberikan berkas ini lalu pulang lagi?

“Yes, his room is in 13th floor.” Terangnya lagi. [ya, di lantai 13]

“Eum~ can I just drop these files here? I’m kinda busy right now.” Dusta Dee. Ia tidak yakin ia mau menemui Andrew di kantornya. [bisakah saya meninggalkan filenya di sini? Saya agak terburu-buru.]

“The files is confidential, miss. I’m sure Mr. Choi wants you to give those files directly to him.” [ini file rahasia, nona. Aku yakin Tuan Choi ingin anda memberikannya langsung padamu.]

Dee memutar bola matanya kesal. “Geez~”

“Pardon?” [maaf?]

“Oh, nothing.” Dee mengibaskan tangannya. “Where can I take the elevator?”

“In that corner,” wanita itu menunjuk bagian kanan dari mejanya. “When the elevator stops in the 13th floor, you can ask the security guard, I’ll tell them to help you..” [saat liftnya berhenti di lantai 13, aku akan meminta bagian keamanan untuk membantumu.]

Dee mengangguk mengerti. “Thank you”

“You’re welcome. Glad to help you, Ms. Adams.”

Dee sempat ternganga ketika pintu elevator terbuka di lantai tiga belas. Interior di lantai tiga belas ini begitu berbeda dengan lantai satu di mana ia pertama kali masuk. Lantai ini terlihat lebih mewah dengan ornament etnik yang sangat apik. Beberapa pajangan dan lukisan juga disusun dengan rapi dan teratur. tertata dengan sangat apik. Ia mengenali karya Pissaro di dinding kanan.

Pernah sekali ia berada di ruangan yang interiornya serupa dengan interior di lantai tiga belas ini. Saat ia ikut business trip bersama ayahnya dan menginap di salah satu hotel ternama di swiss. Hotel yang biasa disinggahi para royal family.

“Selamat siang, nona adams?”

Dee menoleh dan mendapati seseorang berjas hitam menyapanya.

“Ah, iya. Selamat siang”

“Anda pasti mau bertemu dengan Mr. Choi bukan? Beliau baru akan menghadiri meeting setengah jam lagi. Jadi, anda bisa langsung masuk ke ruangannya seperti yang ia minta.”

Dee tersenyum manis. “Oh, iya. Terima kasih.”

 

***

Sulit bagi Jordan untuk berpikir jernih saat ini, kepulangan Marcus Choi secara tiba-tiba  memberikan kerugian dan keuntungan ganda sekaligus. Yang artinya, perubahan rencana. Ia jadi harus menemui Andrew, membuat Bryan bersikeras untuk ikut.

“Kau yakin mau ikut denganku, Bryan?” Jordan menatap adiknya tidak yakin. Mereka masih dalam mobil yang terparkir di depan sebuah gedung perkantoran yang besar dan mewah.

“Memangnya kenapa Hyung?” Bryan menaikkan sebelah alisnya, “Bukankah kau memang ingin aku belajar bisnis darimu?”

“Yeah, tapi kita akan bertemu dengan Andrew Choi, dan aku cukup tahu sejarahmu dengannya tidak menyenangkan. He’s a jerk for us, but he’s more than a jerk for you…” [dia memang seorang yg brengsek untuk kita, tapi artinya lebih dari itu untukmu]

“Jangan khawatir, aku bisa meng-handle-nya. Lagipula, toh ini urusan bisnis, dan kami berdua cukup dewasa sekarang…”

Jordan tersenyum bangga pada adiknya. Bryan mungkin bukan negosiator yang sempurna, tapi ia tahu kecerdasan adiknya bisa membawa perusahaan keluarga mereka mencapai kejayaannya. Termasuk menyingkirkan saingan-saingan pengganggu macam pemilik perusahaan yang akan ditemuinya sekarang.

 

 

***

 

“Ya Josh, aku tahu kau akan sibuk sekali dengan proyek baru kita ini. Iya, aku mengerti. Itu sebabnya aku pikir aku harus mencari asisten baru. Ah, tidak, bukan, jangan sekertaris. Kau tahu sendiri kan aku takkan pernah mempekerjakan seorang sekertaris? Jangan tertawa, itu prinsipku. Pokoknya kau carikan aku asisten untuk membantuku, ok? Kau bisa datang sebentar? Aku menunggumu.. bye”

Andrew menutup sambungan teleponnya dan memikirkan perkataan Joshua tadi, mengenai sekertaris. Ia hanya bisa menghela nafas, belum saatnya memiliki seorang sekertaris di awal karirnya, bukan? Ia masih bisa me-manage semua urusannya sendiri. Mengaturnya sesuai dengan keinginannya tanpa interupsi orang lain.

Tapi sebuah pertanyaan merangsak dalam benaknya, apakah justru ia membutuhkannya untuk menemani perjalanannya sejak awal?

Andrew memutar kursi yang tadi menghadap ke jendela menjadi ke arah pintu di mana seseorang baru saja masuk setelah Andrew mempersilahkannya tadi.

“Dennis hyung, aku… kau?” Andrew mengerutkan keningnya, bukankah Dennis hyung yang akan mengantarkan berkasku? batin Andrew.

“Ah, maaf. Dennis-sshi ada keperluan, ia memintaku mengantarkan berkas ini padamu.” Kata Dee sambil mengangsurkan berkas yang sejak tadi didekapnya.

“Oh, terima kasih.”

Andrew menerima berkas yang diberikan Dee dan langsung membacanya. ia tampak serius membaca sampai melupakan kehadiran Dee di ruangan yang sama dengannya.

Dee tertarik akan interior ruangan kerja Andrew yang didominasi warna hitam dan putih, tampak berkelas dan sangat minimalis. Ia tahu apa yang ada di ruangan ini pasti bukan mebel yang dijual di luaran. Dan harus ia akui, selera tuan muda yang satu ini patut diacungi jempol. Sophisticated.

Perhatian Dee terpecah saat bunyi ketukan terdengar dari pintu. Tanpa mengangkat kepalanya dari berkas-berkas yang bertumpuk di hadapannya, Andrew menyuruh si pengetuk masuk.

“Masuk.”

Pintu terbuka, Joshua berdiri di ambang pintu dengan seabrek berkas dalam genggamannya. Ia berhenti saat melihat sosok “Dee?”

“Hai, Joshua.” Dee mengangkat sebelah tangannya, menyapa Joshua.

“Angin apa yang membawamu kemari?” tanya Joshua yang kini sedang memasukan berkas ke dalam clear holder dan menatanya dalam sebuah lemari kaca khusus file.

“Aku diminta mengantarkan berkas Andrew yang tertinggal.” Dee tampak canggung berada di ruangan yang sama sekali asing baginya. Rasanya ia harus segera keluar daripada merasa tidak enak. “Eum~ sebaiknya aku pamit sekarang..”

Joshua menghentikan kegiatannya membereskan berkas berkas di lemari. Kini ia baru terfokus pada  sosok Dee yang menurutnya terlihat cantik dengan blus putih, rok A line warna abu dan sehelai scarf melingkar di lehernya.

“Kau akan pulang sekarang?”

Dee mengangguk.

“Sendiri?” tanya Joshua lagi.

“Iya.. tadinya Dennis-sshi akan menjemputku, tapi ia baru akan datang dua jam lagi karena harus bertemu dengan Casey. Aku rasa aku takkan menunggu selama itu.”

“Ah si nyentrik itu,” Joshua tersenyum sendiri lalu kembali pada Dee. “Pakai supirku saja. Ia akan kemari setengah jam lagi, tunggu saja supirku sebentar..”

Ia tak tega melihat Dee harus memakai kendaraan umum. Joshua yakin Dee wanita yang bisa menjaga diri, tapi ia lebih nyaman jika dapat mengakomodasi seorang wanita sebaik mungkin.

“Ah, tidak usah.. aku tak ingin merepotkan.” Tolak Dee halus. Satu lagi plus point Joshua di mata Dee, ia pria yang tahu bagaimana menjaga seorang wanita.

“Kalau begitu tunggulah di sini..” kata Andrew tiba-tiba. Ia bangkit dari kursinya, mengambil jas yang tergantung di hanger dan memakainya. Ia merapikan beberapa berkas yang berantakan dan memutar laptopnya mengarah pada kursi di depan kursinya.

“Aku rasa kau  pasti mengerti document controlling..”

“Eh?” Dee tampak bingung tapi kemudian ia mengangguk.

“Good then, selama kau menunggu supir Joshua, kau bisa mengerjakan sesuatu yang berguna untukku.. I’ll meet you after the meeting”

Andrew mengisyaratkan Joshua untuk mengikutinya keluar ruangan. Sedangkan Dee yang masih kaget hanya bisa ternganga karena tiba-tiba saja, tuan besar yang ia ketahui sebagai seorang perfeksionis, mengijinkannya mengerjakan pekerjaan kantor miliknya.

 

 

“Hollaa~”

Marc terlonjak karena kaget. Ia perlu menyeimbangkan sedikit tubuhnya agar tidak jatuh ke permukaan kolam. Ia menoleh dan mendapati seseorang kini ikut duduk di sampingnya.

“It’s Jules..” kata gadis itu. Ia tahu Marc kebingungan untuk memanggilnya.

“Oh, hi Jules.. ada perlu apa?” tanya Marc sopan. Ia agak canggung melihat gadis itu dalam pakaian santainya. Walau lama tinggal di luar negeri, Marc tetap menghargai privasi seorang wanita atas dirinya sendiri.

“Hanya ingin berbincang. Juga mengucapkan terima kasih untuk traktiran di toko buku kemarin. Aku belum mengucapkan terima kasih secara proper kan?”

“nothing to thank, I owe you for staining my brother’s Armani.” Kata Marc merujuk pada kejadian pagi kemarin saat Jules menumpahkan teh di jas kakaknya. “He needs to change that old-fashioned suit.” [tidak perlu berterima kasih, aku berhutang padamu saat kau menodai Armani kakakku. Aku rasa ia harus mengganti jasnya yg ketinggalan zaman itu.]

“hhahaa~” Jules mencipratkan tangannya yang basah pada Marc. Ia tidak ingin membicarakan Andrew sekarang, itu hanya akan membuat jantungnya berdetak lebih kencang untuk alasan yang tak pasti.  “So, how’s London? It’s been a long time, I missed that town.”

“kau pernah ke sana?” selidik Marc penasaran. Perasaannya mengatakan bahwa gadis ini dan kakaknya punya sesuatu yan dirahasiakan mengenai pribadi mereka.

“Hmm” katanya santai, “tell me, Marc. How’s London now?”

“Still the same,” lalu Marc tersenyum. “except the living cost.”

Seperti menular, Jules ikut tertawa mendengar tawa renyah Marc. “ah, ya aku ingat. London adalah kota dengan living cost termahal. But you can afford a living there..”

Marc smirks, “yeah, thankfully ayah meninggalkan harta yang sangat cukup..”

“Kau ini ternyata bisa juga bercanda ya?” ledek Jules. Selama ini ia hanya melihat sisi dingin adik dari si tuan besar yang arogan. Ternyata, Marc bisa menjadi seseorang yang menyenangkan. Pribadi Marc yang di toko buku, Jules tidak menghitungnya sebagai kesehariannya karena jelas Marc melakukan sesuatu di luar kebiasaannya.

“Mana noona-mu?” Tanya Marc yang menyadari si adik tidak ‘nempel’ dengan kakaknya.

“Aah, Dennis oppa meminta onni mengantarkan data ke kantor kakakmu.”

Dahi Marc berkerut. “ke kantor hyung?”

Jules menggeleng. “entah.”

“Jules, ada yang ingin kutanyakan padamu…” sahut Marc. Kini ia duduk serius menghadap Julie. “apakah Dee noona…”

“Julie Charlotte Adams!” sebuah suara menyentak membuat Jules dan Marc menoleh seketika. Dari pintu di belakang mereka, terlihat Dee setengah berlari menuju mereka.

Mendengar itu, Jules kontan berteriak. “Onni! Stop calling my full name! annoying brat!!”

Dee tertawa dan berjongkok agak jauh dari adiknya, ia tidak mau ikut-ikutan main air ataupun basah-basahan. Apalagi ia sedang memakai Stella McCartney terbaiknya pemberian Dennis. Dan suasana hatinya sedang sangat baik.

“eh, hi Marc” sapanya ketika melihat ada orang lain di samping Jules.

“Dari mana saja? Mengapa lama sekali?” protes Jules spontan. Kakaknya tak pernah meninggalkannya tanpa kabar seperti tadi.

“Aku diminta mengerjakan beberapa file di kantor. Hhehehe~”

“Kau kantor Hyung, noona?” potong Marc dengan kedua alis bertaut. Entah kenapa, Dee hanya mengangguk malas, annoyed.

“Ayo Jules” ajaknya pada sang adik, ia menarik Jules agar segera bangkit dari duduknya di sisi kolam renang.

“Eh oh” Jules bingung melihat reaksi Dee yg agak tak biasa.

Dee menatap Jules tajam lalu mengarahkan tangannya ke dalam rumah, menginstruksikannya agar masuk. “Ayoo”

“Ada apa sih?”

Marc hanya menatap mereka dari kejauhan dengan wajah bingung. tak lama..

“Hahahahahaha”

Suara tawa keluar dari mulut Jules, Dee mencoba menghentikannya tapi tawa sang adik terlalu lantang untuk dihiraukan Marc.

“MARC!” seru Jules dari jauh.

Marc mengerutkan keningnya, bingung dengan kelakuan dua gadis yang berubah drastic ini. “Yes, Jules?”

“BWAHAHAAHA SDFSLDIUMRUGFHMIWEH HAHAHAHAAHA!” kata-kata Jules yang disertai dengan tawa tidak terdengar jelas di telinga Marc. Tangan kiri Dee menutup mulut adiknya, sedangkan tangan kanan melambai ke arah Marc. Marc membalas lambaian tangan itu.

Sementara kedua kakak-adik itu masuk ke dalam rumah [baca: Dee menyeret Jules yang masih tertawa dan berusaha memberitahu sesuatu pada Marc], tawa Jules masih terdengar, dilatarbelakangi gerutuan Dee. Ia masih tak tahu pasti apa yag terjadi pada kedua kakak beradik itu, tapi hatinya merasa senang melihat senyuman dan tawa mereka. Ia sadar, ini pertama kalinya ia melihat Jules dan Dee terlihat lebih santai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s