Choi Chronicles [8/?] It’s You

I’m so sorry it took us a zillion years to finally update this fiction, lol.

chapter 8 – It’s You

“Selamat siang, Andrew.” Jordan menyapa rekanan bisnisnya sopan, membungkuk sedikit lalu masuk ke dalam ruang rapat yang tak begitu besar tersebut. Andrew menolak untuk mengadakan pertemuan di ruangan kerjanya dan menunjuk mini conference room itu sebagai alternatifnya karena yang hadir dalam meeting ini hanya beberapa orang termasuk dirinya.

“Siang,” balas Andrew sopan, menunjukkan kursi yang tersedia. “Silahkan duduk.”

Jordan menuruti instruksi pria yang lebih muda darinya itu. Namun sebelum dia duduk, terlebih dahulu ia menggeser tubuhnya agar seseorang di belakangnya bisa mengakses jalan yang sama. “Aku harap kau tak keberatan dengan kehadiran adikku di sini.”

“Ya?” Andrew mengerutkan keningnya bingung.

“Bryan’s here, starting to assist me from now on,” sahut Jordan sambil menunjuk adiknya yang berdiri di sampingnya. Ia mengenakan jas hitam formal yang membungkus tubuh atletisnya. Wajah tampannya setengah tertutupi kacamata minus yang memagari figurnya yang terkesan intelek.

“Long time no see, Bryan.” Andrew menyapanya agak kikuk, “apa kabar?”

“Baik,” jawabnya singkat. Mereka lalu duduk melingkar di ruangan itu. Andrew duduk tepat di sebelah Joshua dan Jordan sedangkan Bryan duduk tepat di hadapannya. Mereka saling bertatapan sebelum seorang pegawai membawakan minuman untuk mereka. Tatapan itu intens, tak terdefinisi apa emosi yang ada di dalamnya.

“Aku rasa kita mulai saja,” kata Joshua memulai pembicaraan. Ia bangkit dan menyalakan infocus yang siap menyajikan slide berisi inti pertemuan ini. Ia berperan sebagai operator karena seluruh penjelasan akan diberikan oleh Andrew.

“Ini adalah statistic progress para pegawai setahun ke belakang di kedua perusahaan. Terlihat jelas semuanya memiliki potensi untuk persaingan, namun hanya ada beberapa perwakilan yang berhak mengikuti tender ini,” terang Siwon sambil menunjuk slide yang berisi data-data pegawai beserta kualifikasinya.

Ia memberikan sebuah map biru pada Jordan, memintanya membacanya. “Kedua perusahaan hanya akan bekerja sama dalam bidang pelatihan pegawai. Keputusan pemenang tender tidak akan ada sangkut pautnya, kan?”

Jordan mengangguk sambil terus membaca apa yang baru saja diberikan Andrew. Dibalik rasa dendam yang mendarah daging, ia harus mengakui bahwa perusahaan yang dipimpin Andrew mengalami kemajuan yang amat pesat. Inovasi-inovasi yang mereka berlakukan memberikan kontribusi yang lumayan bagus.

“Ya, aku harap juga begitu,” jawab Jordan ringan namun penuh penekanan. “Entah The Kims atau Choi Corporation yang menang nantinya, kedua belah pihak takkan saling mengintervensi satu sama lain.”

“Outstanding, Andrew. Kau begitu detail,” kata Jordan setelah selesai membaca laporan yang diangsurkan Andrew tadi. Ia menaruh map itu di meja, memperbaiki duduknya lalu mulai mengutarakan apa yang ingin dikatakannya. “The Kims hanya akan mengutus satu orang.”

“Eh?” Andrew menaikkan sebelah alisnya.

Jordan tersenyum senang mendapati saingan bisnisnya sedikit terkejut. “Bryan Trevor will be our representative in this business.”

“Aku harap kau tak keberatan,” sahut Bryan yang sedari tadi tampak diam saja. He’s the true observer, ia hanya bicara jika ia diperlukan. Ini membuatnya tampak untouchable di mata semua orang. Bryan yang pendiam namun sewaktu-waktu bisa menenggelamkan.

Hal ini tak luput dari perhatian Andrew, ia tampak berpikir sejenak, mencerna apa yang baru saja dikatakan Jordan padanya. Tak lama ia mengangguk mengerti lalu menuliskan sesuatu dalam kertas catatannya. Sesuatu yang tidak diketahui siapapun karena planner itu hanya dia yang boleh membukanya.

“CV dan kelengkapan lain milik Bryan sebaiknya diserahkan secepatnya, data kepegawaiannya harus di update dalam database,” pinta Andrew dingin. Ia ingin segera menyelesaikan pertemuan ini. Andrew bangkit, secara tidak langsung meminta dua orang lain di ruangan itu untuk keluar sesegera mungkin.

Jordan mengulurkan tangannya untuk mengucapkan selamat tinggal pada Joshua dan Andrew yang disambut dengan hal serupa. Ia terlebih dahulu meninggalkan ruangan meski Bryan masih ada di situ.

“See you around, sunbae-nim,” kata Bryan pada Andrew, esensi dari kata-katanya berbanding terbalik dengan mimic yang ditunjukannya. Ia mengulurkan tangannya pada Andrew, sambil tersenyum konspiratif. Makna sapaan yang ditujuan oleh Bryan terdengar seperti ejekan dari pada sapaan hormat.

Barulah ketika kedua kakak beradik The Kims menghilang dari balik pintu, Andrew menghempaskan dirinya di salah satu kursi. Matanya terpejam sedangkan kedua tangannya terlipat di belakang leher, posisi yang sangat kasual yang jarang dilakukannya di kantor [atau di tempat manapun di mana ada orang asing].

“Bingung dengan kehadiran Bryan yang tiba-tiba?” tanya Joshua yang lebih mejurus ke pernyataan. Jelas terlihat Andrew tidak aware dengan kehadiran si bocah yang begitu mengagetkan. Ia tak pernah tahu Bryan kini tertarik dengan dunia bisnis. Sama seperti adiknya, Bryan bukan tipe pecinta kerja kantoran.

“Ini sesuatu yang harus kau pikirkan baik-baik, Andrew. Kehadiran Bryan bisa menjadi ancaman untuk kita jika kita tak bisa memberikan perlawanan yang setimpal. Aku tahu proyek ini lebih dari sekedar bisnis jika sangkutannya dengan Bryan Kim.”

Joshua benar, tak pernah sekalipun Andrew membiarkan Bryan mendapatkan posisi lebih tinggi darinya. Ini bukan saja taruhan pekerjaan, tapi juga pertaruhan harga dirinya.

Apa yang harus kulakukan? Batin Andrew. Lalu sebuah ide melintas di otaknya. Bukan ide yang baru, bahkan bisa dibilang hal ini sudah mampir di otaknya sejak lama. Namun ia selalu ragu kapan waktu yang tepat untuk ini semua. Mungkin sekarang adalah awal yang tepat untuk memulainya.

“Put Marcus in the list,” perintah Andrew yang diiringi dengan seringai kemenangannya.

Mendengar ini, Joshua terhenyak. Andrew meminta adiknya ikut campur secepat ini? Bukan masalah kapabilitas Marcus yang diragukan Joshua, dengan otak briliannya jelas Marcus berkemampuan. Masalahnya adalah kesediaan Marcus.

“Ayah tak menyekolahkannya di Oxford untuk sesuatu yang sia-sia,” terang Andrew pada Joshua. “dan ia harus punya sesuatu untuk dibaktikan pada keluarga ini.”

Ruang tengah keluarga Choi dipenuhi berbagai kardus. Rencananya setengah dari jumlah keseluruhan akan disumbangkan ke badan amal dan separuhnya lagi diberikan cuma cuma untuk bazaar murah. Jules dan Dee mendapat tugas untuk menyortir. Dennis merasa ia sama sekali tidak ahli dalam hal menyeleksi, jadi meminta bantuan dari dua gadis ini dianggapnya sebagai hal bijak. Dalam waktu singkat mereka sudah ribut sendiri.

“Warnanya sudah lusuh, tetapi jahitan nya masih rapi,” celoteh Jules pada sebuah kemeja biru tua polos.

“Euwh..polkadot. Aku yakin ini milik Marc. Hihihihi.”

“Onnie, ini koleksi Prada bukan?”

“Entah, bagiku terlihat seperti rancangan Tom Ford. Tolong ambilkan yang dibagian kiri, Jules”.

Kaki Jules melangkah ke arah yang ditunjuk Dee. Sama seperti tumpukan lain, sebagian besar baju disini berjenis kemeja. Jules mulai mengamati tumpukan pertama. Karena kurang hati-hati, Jules nyaris tersandung. Beruntung Andrew yang baru turun dari tangga dengan sigap menangkap tubuh Jules. Seperti superhero. Lengan kanannya menyangga pinggang Jules, erat.

“Dua mata tidak cukup ya buatmu? Mau kutambahkan lagi di dekat kaki?” ucapan sinis memasuki gendang telinga Jules.

“Lepaskan aku sekarang,” gertak Jules denganraut wajah terganggu, ia tidak suka.

“‘Thank you’. Hanya itu yang ingin kudengar,” Andrew mengonfrontasi. Raut wajahnya sama-sama keras, tak ingin dibantah.

“Bukankah kau sudah mengucapkannya barusan? What a real pabo.”

“Katakan ‘Thank You’ atau kau akan ikut denganku ke kantor” Andrew malah mengencangkan pengangannya pada pinggang Jules. Tubuh mereka bersentuhan satu sama lain.

“THANK YOU VERY MUCH” Jules membuat suaranya sekencang mungkin. Pegangan akhir dilepas, Jules pun buru-buru mengkibaskan telapak tangan ke seluruh bagian tubuh yang disentuh Andrew. Gerakan menyapu debu. Berbeda dengan Jules, Andrew malah terlihat puas.

Enggan berlama-lama mengingat kejadian tadi, ia segera menyelesaikan tugas yang sempat tertunda. Tapi ternyata, Dee tak ada di tempat. Mata Jules mencari-cari ke berbagai sudut kakak sulungnya sedang memberikan sesuatu… pada Andrew!

“This is for your lunch,” ujar Dee, menyodorkan sebuah kotak makan siang.

Jules memandang Dee dengan tatapan oh-tidak-Dee-kau-terkena-kutukan.

“I can buy myself one. I’m sure it tastes better than yours.” Andrew berjalan pergi, meninggalkan Dee dengan tangan yang masih menyodorkan kotak makan siang berwarna biru itu.

Meskipun masih sangat shock, Jules langsung mendatangi Andrew. Membela Dee, tentu saja.

“Appreciate what she’s done for you!” katanya tegas, menghentakkan kotak itu di depan Andrew.

Andrew melengos. “It’s all yours. I don’t want it, JULIA.”

Tanpa ragu, Jules memandang pria menyebalkan itu. Tepat di kedua matanya. “Take those boxes with you, ANDREW!”

Di sofa kantornya yang empuk, Andrew duduk sambil memijit kepalanya yang entah kenapa masih saja terasa pusing. Sebenarnya, sakit berkepanjangan ini bisa sembuh hanya dengan satu kalimat pendek. Atau tindakan-tindakan bersifat afektif.

Andrew kembali menimbang-nimbang untuk bersikap semacam tadi tidaklah benar. Gadis pemarah dan mandiri seperti Julia sukar takluk dengan cara biasa. Ia harus menempuh jalur khusus. Dipandanginya lunch box transparan berisi kimbap yang ada di meja. Andrew lantas mengambil sumpit yang tadi diletakkan Josh tepat disamping vas bunga. Bau khas kimbap memenuhi udara, Andrew menggigit sepotong.

Kurasa menuruti permintaanya secara diam-diam bisa disebut tahap awal.

Julie, Julia..

Mengingat nama itu membuat Andrew terhenyak pada suatu fakta. Ia menoleh kalender meja dan segera mengambil mantelnya setelah melihat apa yang terpampang di bawah tanggal hari itu.

Lapangan indoor itu berisik karena bunyi bola yang terus menerus terpantul ke dinding. Dua orang pria muda berkonsentrasi keras agar tidak luput akan arah laju bola. Pengembalian service berlangsung cepat, balik berbalik. Keringat mulai menetes dari wajah dan leher mereka. Aura kelelahan perlahan muncul disertai dengan mengendurnya kekuatan otot lengan. Satu lesatan bola terakhir gagal dikembalikan secara sempurna

“Hyung, another set please,” Bryan mengambil botol air minum, menenggaknya sampai habis.

Serupa dengan adiknya, Jordan melakukan hal yang sama. “Dasar maniak. Sudah, aku mengaku kalah. Kau menang. 3-1 untukmu.”

Di bibir Bryan tersungging sebuah senyum kebanggaan. Kau memang mahir bela diri, tapi aku adalah jagoan squash keluarga. Dilemparkannya handuk ke arah Jordan lalu ia mengikuti kakaknya berjalan menuju lounge yang sudah dipersiapkan bagi mereka.

“Mau minum apa, Tuan?” Langkah kakak beradik itu terhenti karena suara yang amat familiar…

“Jimbo! Kapan kau sampai? Why don’t you tell us?” Secara spontan Jordan memeluk si pemilik panggilan. Seorang pria tampan dengan jaket tebal berwarna hitam tersenyum lebar.

“Jerome Kim paling suka membuat kejutan, Jordy Brody. Hello, Bryte. Apa kabar adik kecil kita satu ini?” sapanya pada Bryan, mengacak pelan rambut adiknya.

Melihat ini, Jordan gatal untuk mengumumkan pencapaian Bryan pagi ini di kantor Andrew. “Dia sukses membuat wajah tampan Tuan Choi berubah kusut dengan satu penjelasan singkat. Sungguh ingin sekali tanganku mengacak-ngacaknya supaya tidak berbentuk lagi.”

“Nanti dulu, nanti dulu. Jangan sia-siakan jackpotmu,” Jim, sapaan hangat Jerome, tertawa culas. “I wanna know your plan, hyung. Aku tidak butuh sambutan, tapi pekerjaan.”

“Alrite,” Jordan mengamini. “Dekati kedua gadis Adams. Satu di antara mereka mungkin. Aku yakin kehidupan mereka di mansion kuno keluarga aneh itu jauh dari kata nyaman. Kau kenapa?” Jordan menghentikan bicaranya karena ekspresi Bryan tampak mengeras. Ia tahu sesuatu, lalu tertawa.

“Soal JC?” Jordan melanjutkan. “Personal matter doesn’t last long in this cruel world, my boy.”

Bryan membuang pandangannya. “Hell,whatever. But don’t you two forget about The Geek. Isi kepalanya juga tidak mungkin kita ledakan dalam waktu dekat ini.”

“Marcus? Dengar B, sementara kamu mencari bahan peledak yang cocok beserta timing terencana untuk melihat otak jeniusnya menjadi serpihan,” Ibu jari Jordan terpampang manis di hadapan muka Bryan. “Seberapapun besar uang, dukungan, kekuatan di belakang mereka, Chois will never win against Kims. Karena keduanya sudah mengubur prinsip kebersamaan terkuat…”

“Apa itu?”

“Bro…” tangan kiri Jordan membentuk sebuah garis lengkung 45 derajat kearah Jeremy. Dibuatnya lagi lengkungan bermotif sama ke tempat Bryan yang berdiri di samping “-Ther…” Seolah mengerti maksud kakak tertua mereka anak kedua dan ketiga klan Kim itu mendekat menuju Jordan.

“-Hood”. Pengucapan kata terakhir membuat kakak beradik Kim yakin mereka semakin kuat.

Flashdisk dalam keadaan terpasang di port-nya dan Marc sudah duduk di depan laptop. Program perangkai kata-kata terakses dengan lancar. Tinggal mengetik. Tapi baik tangan kiri maupun tangan kanan Marc seolah kaku.

Lucu.

Padahal beberapa bulan lalu di collegenya, Marc merupakan pemecah rekor. Penaklun dosen berjuluk ‘Psychokiller’. Teman sekamar Marc bahkan menyebut dia ‘Mad Man’ karena bisa tembus hanya dengan 3 kali revisi. Tapi toh ‘Mad Man’ sekarang tinggal nama, belum satu kalimat pun berhasil Marc buat. Dalam seminggu ini, Marc sulit untuk fokus. Kehabisan bahan. Kehilangan inspirasi berujung pada berkurangnya kemampuan menulis, berakibat terhenti di satu titik.

“Noona…” tiba-tiba saja nama itu terucap, tanpa aba-aba. Ya, mungkin bukan ide buruk untuk minta saran pada Dee. Ia pasti mau membantu. Lagipula Dee berperan besar sebagai penyebab hilangnya sosok ‘Mad Man’ dalam diri Marc. Apa yang Marc lihat belakang ini menimbulkan rasa empati tak terucap. Itu bahkan masih membutakan Dee, hingga pagi tadi. Jelas dan nyata. Marc mendadak ingin mengajak Dee berhadapan dengan realita. Bisa jadi ini jalan keluar tersembunyi.

Hehehe~ Marc tertawa selama beberapa detik lalu diam membisu. Rasa bingung datang dengan pertanyaan bagaimana Dee mendominasi bahkan menggeser tempat skripsi dalam ruang pikiran Marc? Empati adalah petunjuk awal. Butuh bantuan merupakan kelanjutan. Menghibur Noona adalah tujuan.

Aiish~

Tek tek-, secara setengah sadar jemari Marc memencet tuts keyboard.

Tulisan ‘D D’ tercetak di layar. ‘Apa ini?’ Marc menghela nafas panjang.

Empati dan kebutuhan. Ditanamkannya kedua kata tersebut ke dalam otaknya. Mencoba membuang jauh jauh rasa penasaran akan sikap aneh Dee Noona.

“Marcus…” suara Andrew. Ia menolehkan kepala dan melihat sang kakak berdiri tepat di depan pintu, memegang sebuket bunga Lily di tangan kanan dan aviator di tangan yang satunya. Seolah diingatkan akan sesuatu, Marc menyambar jacket di dekat kursi lalu keluar bersama Andrew, meninggalkan naskah skripsinya tanpa perhatian sama sekali. Ada yang jauh lebih penting dari prestasi akademik.

“Happy birthday, happy birthday.. Happy birthday to….”

Suara mereka mengambang di udara. Marc menggigit bibir sambil mengerjapkan-ngerjapkan matanya, menahan air mata. Suara jernihnya bergetar saat menyanyikan lagu manis itu. Wajah Andrew yang tertutup aviator memang tak terlihat, tapi setetes air mata meluncur bebas ke pipinya dengan hidung memerah.

“Hi our 18 year old girl, happy birthday. We’re here today to celebrate as you wish. I’ve came all the way from London…,” monolog Marcus, senyumnya terarah pada objek di depannya. Ia menghirup nafas lebih dalam untuk menghalau air mata yang siap tumpah.

Andrew melanjutkan kalimat Marcus yang terhenti. “And I took a day off just for you, honey. I hope that…” setetes air mata jatuh lagi ke pipinya. Ia tak pernah bisa tak menangis di saat seperti ini. Andrew langsung meninggalkan Marc sendiri, berjalan cepat menuju mobil.

Reaksi hyung-nya tadi membuat Marc semakin sedih. Ia menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Tak butuh jadi pria yang sok kuat untuk hari ini.

“Hope you like the lilies. You’re a big girl now, so be good okay? Take care. We miss you so much.” Marc menundukkan kepalanya, “We’re sorry, I’m sorry.”

Marc menutup rasa sedihnya dengan menyusul Andrew pergi meninggalkan tempat itu dengan tidak menengok lagi.

Sebuah nisan dari marmer menjadi bukti dinding pemisah diantara kedua kakak beradik itu semakin tebal terbentuk. Meski ingin, raga yang terkubur didalamnya tak bisa berbuat apapun.

-to be continued-

Advertisements

2 thoughts on “Choi Chronicles [8/?] It’s You

  1. Huwaah :O
    i need chap.9 eonni! kekeke~
    jules ama won uda skinship”an aja nyak –
    dee-kyu.. hayuu tgu apa lagi 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s