Choi Chronicles: Intro + Teaser

By Miss Han and Miss Nam

Annyeong! Annyeong!
How are u guys doing lately? It’s another FF comin’ up on your way!! 😀

Well, gmana kalo kita langsung kenalan aja sama characters nya?
*habis kalo dengerin kita ngomong dulu seminggu juga selesai, maklum calon ibu rumah tangga yang baik hihihi *bawel: maksudnya*
Check this one out!
Semua tokoh di FF ini adalah namja-namja Suju. But this time, kita gak pake nama-nama Korea mereka. We’re using their English names instead! Hehehehe
Takut ada yang belum tau or gak hafal, nih kita kasih list-nya:
*Leeteuk: Dennis
*Heechul: Casey
*Hangeng: Joshua
*Yesung: Jeremy
*Kangin: Jordan
*Shindong: Matthew
*Eunhyuk: Spencer
*Siwon: Andrew
*Sungmin: Vincent
*Donghae: Aiden
*Kibum: Bryan
*Ryeowook: Nathan
*Kyuhyun: Marcus

Sasha selaku author/writer dan Asti sebagai author/editor berharap readers dpt terhibur dengan penyatuan ide/pemikiran gila kami berdua xD
HAPPY READING!!
……………………………….CHOI CHRONICLES………………………………………………….

Pria itu melemparkan anak panah yang kesekian kali ke arah papan dart dengan kesal. Anak panah itu menusuk di lingkaran kedua.
“Maldicion!” desisnya.
Lalu dia mengambil satu anak panah lagi, mengincar titik tengah. Dengan determinasi kuat, ia mengayunkan tangannya mantap.
Meleset.
Digebrakkannya kotak berisi anak panah dengan kesal, beberapa anak panah bertebaran di meja. Sebenarnya dia seorang yang mahir memainkan panah berujung lancip itu. Jarang sekali gagal. Tapi kali ini pikirannya terdistraksi oleh sesuatu. Dia sedang menunggu sesuatu yang amat penting.
Telepon berdering.
“Josh, what about it?” Josh, bagaimana?
“They refuse. I hate the owner so much. He thinks he’s the King of the World… What the hell, It’s up to you now! Mereka menolak, aku benci dengan sang pemilik! Dya pikir dyalah raja dunia, yang terhebat.Sekarang, keputusannya ada padamu
“I’ll reason with him.” Aku akan berunding dengannya
“No need. I’m hang up”Tidak perlu. Aku putuskan hubungan teleponnya sekarang
Ia membanting teleponnya dengan kasar.
Lalu sebuah seringai menggariskan rona kesal di wajahnya.
“So that’s how you’re playing the game? I’ll show u mine.”

Hubungan telepon tersambung ke sebuah nomor. Tak ada percakapan apapun. Hanya satu kalimat yang keluar dari mulut pria itu. walau hanya bisikan, suaranya terdengar tegas dan tidak ingin dibantah.
“One shot. Dead. 20 minutes”

Nada dering kembali terdengar. Saat telepon diangkat, seketika wajah pria itu jadi kaget dan mengeras. Sampai akhirnya pria itu melafalkan sesuatu.
“Infamita”

Dia ingin segera pergi, ia tidak bisa diam menunggu seperti ini, seperti keledai bodoh. Tapi setelah dipikir, terlalu riskan. Membahayakan. Lebih baik menelepon yang lain saja. Lalu secara tak sengaja matanya melihat notes kecil tergeletak di samping pena miliknya. Catatan yang diberikan Josh tadi pagi.

Orang-orang yang akan dia hubungi sudah bertugas untuk urusan bisnis lain. Segera diambilnya jas yang tersampir di kursi. Ia membuka laci dan mengambil sesuatu yang mengilap dari laci. Disarungkannya sebuah leather case, menutupi kilauan metal tersebut dan memasukannya ke saku jasnya.
Sesekali terdengar gumaman kecil keluar dari bibir tipisnya, “sh*t, why did he so stupid?”
Lalu dia keluar rumah dan duduk di depan kemudi Jaguarnya. Tanpa salam, tanpa pamit.

Private Aircraft.
Harus diakui kalau ini adalah pilihan tempat yang sangat tepat. Sepi dan terasing, tidak akan ada banyak orang yang datang ke sini. Ia bisa melakukannya dengan sangat tenang da perlahan.
Tapi sebuah pertanyaan melintas di benaknya, kenapa sang caporegime tidak bisa menjalankan tugas semudah ini dengan baik? Toh ini hanya tugas kecil yang bisa diselesaikan dengan satu tarikan pelatuk.
Ia keluar dari Jaguarnya, berjalan dengan irama yang anggun dan teratur. Dari kejauhan, dia bisa melihat target yang seharusnya sudah mati malah terduduk lemas di sebuah kursi. Terikat.
Jarak yang harus ditempuhnya semakin dekat. Dalam lima langkah, ia akan berhadapan dengan sang target. Langkah terakhir, kini ia hanya terpaut jarak kurang dari setengah meter. Cahaya redup dari bohlam kecil menyinari wajah si target.
Dia kaget.
Dan entah darimana, sebuah amarah membuncah di dadanya. Amarah yang begitu besar hingga mampu membuatnya menggertakan rahang. Kilasan kilasan masa lalu memenuhi otaknya. Jeritan putus asa seorang gadis kecil menggelegak di telinganya. Rasa sesak menghimpit dadanya.
Tapi ia segera mengendalikan diri. Setelah sembilan tahun, akhirnya dia bisa melakukan balas dendam ini. Sekarang dia bersyukur sang caporegime gagal melaksanakan perintahnya dengan baik. Kesempatan itu datang untuknya.
“Good evening” sapanya dalam suara rendah yang mematikan.
“Sir, please, forgive me. I’ve signed the document.” si target dengan wajah takut dan gemetar memberikan sebuah kertas dengan logo perusahaan. Tangannya terikat satu di depan sehingga dia memberikan kertas itu dengan kedua tangan yang bersatu.
“Huh!” Sang pemilik jaguar menatap si target dengan pandangan meremehkan. “Honestly, you have a
very good signature..” sebetulnya, kamu memiliki tanda tangan yang bagus
lalu tanpa ekspresi, kertas yang diangsurkan padanya malah berubah menjadi serpihan-serpihan kertas kecil.
“I have no further interest on this business..”aku sudah tidak tertarik lagi dengan bisnis ini
Mata si target membulat kaget. Semudah itukah si tuan muda merobek kertas kontrak kerja sama ?
“A-aaku akk-kaan me-mmelakuka-an ap-paapun uu-untukmu…” katanya dengan suara terbata. Ketakutan.
“Apapun?” sebuah senyum yang tersungging malah membuat si target semakin ketakutan.
“Iy-yaa, ap-paapun…”
“Bagaimana kalau..” pria itu menatap dengan meremehkan. “MATI?”
“Mm-maksudmu?”
“Tiket untuk menyapa Hades dan jalan-jalan sebentar bersama Lucifer, tidakkah itu terdengar menyenangkan? Kamu bahkan tidak perlu membayar satu sen pun…”
Si target kehilangan kendali untuk mengontrol detak jantungnya yangkini berdetak tanpa kendali. Sejak awal melihat bayangan turun dari mobil, Si target tahu dia sedang dalam bahaya.
Sekarang nyawanya murni terancam. maka dia berusaha keras melepaskan ikatan yg melilit tubuhnya. Tapi bergeser sedikit pun tidak. Simpulnya terlalu kuat.
“Aku heran, kenapa kau begitu takut? Tunggu, mungkin aku punya sesuatu untuk menenangkanmu..”
“Tolong..”
“SHUT UP! Kau membuatku kesal, SANGAT KESAL!” tiba-tiba si pria melayangkan tinjunya. Telak mengenai muka si target. Darah mengucur dari hidungnya.
“Kamu tidak berubah, masih sama seperti 13 tahun yg lalu”
Rasa sakit itu datang lagi ketika ia mengucapkannya.. Menghujam hatinya.. Baru ia sadari rasa sakit itu memang sebenarnya tidak pernah hilang, sedetik pun.
“13 tahun yg lalu, aku bukan apa-apa. Kamu bahkan..”
“Diam kau brengsek!” sebuah tinju melayang lagi. “Kau MEMBUNUH seorang anak perempuan 13 tahun yang lalu!!”
Anak perempuan?
“Ya Tuhan..”
“Sekarang kamu ingat? Hah? Setelah menyebut nama Tuhan? Munafik”
“Kau..”
“Aku orang yang kamu hancurkan dan lumpuhkan…”
“aa-aakuu..”
“mungkin saat itu kau hanya berpikir membunuh seorang gadis berumur lima tahun. Tapi kau lupa, kau meninggalkan anak laki-laki, terlantar di pinggir jalan setelah dipaksa melihat gadis kecil kesayangannya menemui ajal?”
“Pernahkah kau berpikir lelaki kecil itu kini sudah dewasa dan siap membalas dendam?”
Si target diam seribu bahasa.
Ia tahu apa yang terjadi 13 tahun lalu akan terulang lagi. Tapi posisinya dibalik. Dialah yang menjadi sasaran.
“Toolooong~ aku tidak ingin mati!” pintanya lirih.
“Kau berharap aku mengabulkan harapanmu?”
Pria bermantel hitam itu menarik ujung kerah si target. Ia lepas control.
“Lalu kenapa kau tidak mengabulkan permintaan dua anak kecil itu dulu? Kenapa kau malah menenggelamkan gadis kecil itu ke dasar sungai?” suaranya memelan. “Mati perlahan, kedinginan..”
“kenapa? KENAPA?” suaranya meninggi dengan tangannya yang masih mencengkeram kerahnya. “AKU BERTANYA PADAMU, BRENGSEEKKK!!”
Pertahanan yang ia bangun runtuh. Cengkramannya melonggar, kakinya lemas. Ia terjatuh berlutut di hadapan targetnya. Ujung matanya berair. Bukan. Air matanya meleleh. Suara tingginya berubah lemah.
“Gadis kecil itu merengek.. Dia memintamu melepaskannya! Demi Tuhan, dia baru lima tahun.. jika saja kau membiarkannya hidup, mungkin dia sedang bersamaku.. mencari universitas, berbelanja, bercengkrama dengan keluarga.. dengan kekasihnya..”
No use.
Pria yang terikat di hadapannya tidak akan mengerti bagaimana rasa sakit ini bersarang di hatinya selama 13 tahun.
Dia bangkit mengeluarkan sesuatu yang berkilau dari saku mantelnya.

sebuah double action revolver….

Ia mengarahkan mulut pistol tepat ke kepala si target yang matanya sudah berubah merah karena takut.
Shot.
Sebuah peluru meninggalkan bekas lubang di kepalanya.
“Untuk Ally…”
Shot.
Sebuah peluru lagi…
“Untukku…”
Shot.
Peluru ketiga…
“Dan yang terakhir untuk…”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, sebuah tangan menariknya.
“Control yourself! Let’s go!”

-To Be Continued-
………………………………………………………………………………………………………….

Gimana? Berhasil nggak kita bikin kalian penasaran?
Kalo iya *boleh dong sedikit narsis wkwkwkw*, sabar dulu bos! This isn’t even the 1st part yet!
Buat yang udah ngeluangin sebagian waktunya untuk baca dan komen ataupun sekedar ngelirik plus ngasih jempol buat FF kita, kamsahamnida! 🙂

*Iseul_Hyera*

Advertisements

One thought on “Choi Chronicles: Intro + Teaser

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s