Choi Chronicles Chapter 5:’THUNDERBOLT’

HYAAA! Kedua nona Adams kembali dengan cerita mereka! Hehehehehe

Well, aku yakin nunggu nya cukup lama buat chap ini *makasih buat yang nanyain lanjutannya, berarti kita punya fans*-diinjek-

maka dari itu kita langsung aja yuukkk.. HAPPY READING SEMUA 😀 😀

Lelaki di usia pertengahan dua puluh itu mematut bayangannya di depan cermin seukuran tubuhnya. Berdiri di sana, Ia—Andrew, merapikan kemeja Arrow bermotif garis yang dibelinya bulan lalu.Limited edition.Pintu diketuk,kepala Joshua menyembul dari balik pintu.

“Breakfast is ready, Andrew. Marc’s waiting for you on the patio…”Sarapan sudah siap. Marc menunggumu di patio.

“Yeah,I’ll be there in minutes…” jawab Andrew sambil kembali memperhatikan bayangannya dalam cermin. Ya, aku akan selesai berpakaian dalam 3 menit.

Ia mengenakan jas Armani putih-nya dan merapikan lagi penampilannya. Hari ini ia ada janji yang cukup penting,penampilan yang buruk bisa merusak image-nya.Ketika menuruni tangga menuju ruang makan, ia sempat melihat Dee sekilas di ruang makan. Dee tampak sibuk menyiapkan sesuatu.

Tapi tak ingin membuang waktunya yang berharga, Andrew melesat ke patio yang terletak di bagian belakang rumahnya yang megah.

“Pagi..”sapa Andrew seraya mengambil duduk di samping Marc. Ia mengambil koran pagi yang sudah dipersiapkan di meja dan menyeruput espresso-nya.Senyumnya terulas sempurna ketika melihat sebuah berita yang terpampang di koran tersebut.

Ia membaca berita berparagraf singkat di halaman 7.

‘Senior President The Haves Hotel terbunuh semalam. Tidak ada satu pun buktiyang ditinggalkan sang pembunuh. Perbuatannya sangat rapi sampai para penyidik menyebutnya “the Black Gloves”. Tidak ditemukan satu pun yang mengarah pada sang pembunuh. Kuat dugaan hal ini dilakukan oleh seorang professional.’

Ia membuat pengingat untuk mengganti caporegime-nya sebuah pisau lipat Victorinox baru.Ditambah dengan sebuah Renault, akan menjadi hadiah yang sempurna.

“Good job, Aid..” gumam Andrew senang, yang ternyata terdengar oleh adiknya.

“Ya, hyung?”

Andrew segera menggeleng. Ia tak ingin adiknya tahu.

Ia membalik halaman koran sambil bertanya, “Bagaimana kuliahmu, Marc?”

“Baik-baik saja..” jawab Marc singkat. Entah hanya perasaan Andrew atau ini memang nyata, Marc terdengar semakin enggan berbicara dengan Andrew. Apa karena kejadian kemarin?.

“Berapa lama kau akan tinggal di sini?” tanya Andrew lagi. Bagaimana pun Andrew mencoba untuk kembali dekat denganadiknya, mengisi waktu yang mereka lewatkan setelah sekian lama terpisah oleh dua benua yang berbeda. Tapi jawaban Marc sungguh di luar ekspektasinya. Begitu tajam dan menuduh.

“Kau tidak suka aku di sini, hyung?”, dan membuat Andrew mengerutkan keningnya.

“Apa maksudmu, Marc? London mengajarimu untuk bersikap kurang ajar pada kakakmu?”

Marc tak menjawab.

“Aku hanya ingin tahu. Kalau kau akan tinggal cukup lama, aku harap kau bisa melibatkan dirimu di perusahaan. Aku sangat berharap kau…”

“Aku sudah bilang berulang kali, hyung.” Marc memotong perkataan kakaknya.”Aku tak berminat berkecimpung di dunia yang kamu dan ayah geluti—apapun itu!— aku ingin punya jalan sendiri..”

“Jalan apa,Marc?” Andrew memutar bola matanya, gusar. “Kau pikir tanpa semua fasilitas ini, kau bisa menghirup udara dengan bebas?”

“Aku masih merancang masa depanku. Itu bukan sesuatu yang harus diputuskan dengan terburu-buru.” Marc menjawab sambil melihat ke arah lain, berdiri membelakangi Andrew.

Andrew menganggap remeh perkataan adiknya. Ia melipat lagi koran yang tadi dibacanya sekilas dengan emosi tertahan dan bangkit dari duduknya.”By then,”Andrew menepuk bahu Marc. “Pikirkanlah untuk bekerja sama dengan keluarga dan mengesampingkan prinsip nonsense-mu itu…”

Jules bosan. Seharian ini tidak ada hal penting yang dilakukannya. Ia hanyabengong dan melamun sejak tadi bangun pagi. Tumben sekali ia bisabangun sebelum kakaknya mengomel karena matahari sudah naik begitutinggi.”Jules, sedang apa? Daydreaming?” Dennis yang hendak menggantibungan di vas balkon tengah menyapanya. Disambut anggukan oleh gadisitu.

“Hhaha aku heran kenapa hampir semua gadis suka sekali melamun!”

“Yang jelas bukan membayangkan sesuatu yang oppa lamunkan setiap hari!”

“Kau ini!” Dennis berteriak protes. “Aku kan bukan maniak!!”

Sebuah seringai mampir di muka Jules 😀

“Kenapa oppa? Aku kan tidak bilang oppa suka melamunkan tentang apa, oppa sendiri yang menyimpulkan seperti itu!”

Wajah Dennis memerah karena malu, mimiknya terbaca jelas. Saking malunya, ia sampai salah menyusun warna gladiolnya. “Hhaha sudahlah oppa.. lebih baik beritahu aku di mana letak perpustakaan.”

“He? Kau tahu dirumah ini ada perpustakaan?”.Gadis itu memutar bola matanya, heran.

“Sungguh ironis kalau di rumah sebesar ini tidak ada satu ruangan punberisi buku. Bosmu yang aneh itu bukannya suka dengan Paul Coelho?”

“Paul what?”

“Coelho!Coel-ho!” Jules beusaha mengejanya untuk Dennis, tapi sia-sia.”Aissh sudah lah, ribet! Perpustakaan ada di lantai satu, dua pintu dari tangga. Tapi bukan yang ada ukiran kayu di pintunya, itu kantor And.Ada meeting di sana, sebaiknya kau jangan dekat-dekat!”

“Please deh, oppa.. thank you so much,i’m sorry ..goodbye~”.Jules berjalan meninggalkan Dennis yang cuma bisa menggelengkan kepalanya.

Gadis itu, Dennis tidak bisa memahami rasa benci yang dialamatkan pada pria yang sudah dianggap adik olehnya. Andrew memang agak kelewatan, tapi jelas hal tersebut tidak bisa dijadikan excuse untuk berbuat seperti itu.Mata Dennis menatap Jules yang berjalan menuju tangga ke lantai satu yang letaknya agak jauh dari tempatnya sekarang, lalu larut kembali dalam kegiatannya mengganti bunga di vas.

Baru kali ini Julia benar-benar memperhatikan keseluruhan lantai dua ini.Sesungguhnya luas area di lantai 2 ini sangat besar. Terdapat sepuluh ruangan yang dapatdihitungnya. Ia dan Dee menempati kamar tidur di lantai ini, begitu juga Andrew dan Marc.

Kamar mereka berada di pusat rumah, kamar Marc ada di bagian timur yang balkonnya menghadap taman belakang.Sedangkan kamar Andrew terletak di bagian utara. Kamar yang paling ingin dijauhinya.Sebuah elevator berdesain transparan dengan bentuk mininalis tampak terlihat apik. Sepertinya itu menjadi satu-satunya penghubung untuk lantai terakhir di rumah ini, lantai 3, karena Jules tidak menemukan tangga untuk naik ke lantai paling atas.

Di ujung koridor, terdapat sebuah kamar yang disebut Dennis oppa sebagai ‘ruang kerja pribadi’, hanya Andrew dan Josh yang punya autoritas masuk keruangan itu. Jules diperingatkan untuk jauh-jauh dari ruangan itu. Di sebelah kanannya terlihat sebuah layar sentuh berukuran sepuluh inci.Jules tau apa itu. Pemindai retina.

‘Oh ya ampun, apa sih yang dia sembunyikan di dalam sana? Bom?’

Sedemikian tertutup dan sangat rahasia. Lalu kenapa juga disebut ‘ruang kerja pribadi?’ Tunggu, barangkali dia memiliki delusi ingin menjadi seorang Bruce Wayne. Segala nya sempurna, tapi ternyata mempunyai sisi gelap yang menyiksanya selama bertahun-tahun yang disimpan sendiri. Hanya diketahui oleh beberapa orang dan ‘ruang kerja pribadi’ adalah tempat dia menyimpan semua itu, seperti Bruce mengangungkan Batcave.Ternyata menyenangkan juga sedikit berteka-teki dan menebak-nebak.

Julia melangkahkan kakinya ke kamar untuk mengambil laptop-nya, dan segera turun ke lantai satu menuju perpustakaan.Ia berharap menemukan sebuah e-mail untuknya.Keluar dari kamar, ia berjalan menuju tangga, dan dari balik kaca lantai dua ini, Jules dapat melihat taman belakang.Pemandangan yang bisa diakses Marc langsung dari kamarnya. Ia selalu menyempatkan diri melihat indahnya taman itu, sampai sebuah pemandangan menarik perhatiannya.

Andrew meninggalkan Marc yang sedang menyesap tehnya di patio taman belakang. Ia mengenakan jas putih yang entah kenapa, terlihat sangat cocok di tubuh slim-nya.

Jules menggeleng dan mendekap laptopnya erat di dada.

“It’s not going to happen, no.”Tidak. Itu tidak akan terjadi.

Ia segera menuruni tangga, dengan langkah yang iramanya berantakan.Seberantakan perasaannya sekarang ini. Hal yang tidak diantisipasi Julia ketika turun dari tangga, yang ia temui pertama kali adalah si tuan muda yang ternyata mengenakan kemeja bermotif garis garis putih,abu-abu dan coklat pasir. Tapi garis-garis itu begitu rapat dan menyatu, sehingga membuat gradasi warna yang tidak biasa. Tidak banyak orang yang bisa terlihat pantas mengenakan baju dengan motif seperti itu. But somehow, it looks perfect on his well-built body.

“Sialan..”

“Ya nona?” Andrew mengerutkan keningnya. Membuat Jules agak salah tingkah.”I said nothing..” katanya sok santai.

Ia lalu berjalan menuju perpustakaan, berpapasan langsung dengan pria itu sampai bisa mencium aroma Chanel Allure yang dipakainya.Tampaknya Jules butuh asupan oksigen lebih banyak untuk otaknya. Ia berjalan begitu cepat menuju perpustakaan yang hanya lima meter lagi.

The Library.

Jules belum pernah kemari sebelumnya. Seperti ruangan-ruangan lain di Choi mansion, ruangan ini juga sangat besar. Mempunyai begitu banyak koleksibuku, tapi Jules sedang tidak berniat untuk membaca sekarang. Yang ingin dilakukan nya adalah menemukan tempat duduk yang nyaman sambi lmendengarkan lagu dan mengecek e-mail. Ia menyalakan laptop dan memutar lagu favorit abadinya, Hope Is A Dream That Doesn’t Sleep, dan memasang headsetnya.Ia membiarkan pintunya terbuka, ia tak pernah suka pada ruangan tertutup. Lalu tanpa sengaja, ia melongokkan kepalanya ke arah luar. Apa yang terjadi di sana dengan sekejap langsung membuatnya tertarik.’Tampaknya permainan teka-teki dan menebak-nebak harus kulanjutkan kembali’ gumam Julia dalam hati sambil melepas headset dan dan mematikan lagu yang sedang berputar di laptopnya.

“Oppa, lihat Jules? Aku tidak bisa menemukannya sejak tadi pagi. Padahal biasanya dia bangun di atas jam delapan.”

Dee menatap Dennis yang masih sibuk dengan gladiol-nya.

“Pantas saja aku jarang melihatnya pagi-pagi. Tadi dia menanyaiku letak perpustakaan. Jadi kukira ia ada di perpustakaan sekarang ini.”

Dee menyunggingkan sebuah senyum, “Thank you, oppa…” lalu berjalan menuju perpustakaan di lantai dua. Ia sedikit heran melihat ada beberapa orang yang tak dikenal ada di rumah itu. Sepertinya ada sebuah pertemuan.

“Jules…” Dee melongokkan kepalanya di antara celah pintu yang terbuka.”Ya onnie?”

Lho, dari mana suaranya?

“Jules…” Dee mulai mencari asal suara adiknya itu, namun ia tak menemukannya.

“Odie?”

“DeeDee… DeeDee” Julia memainkan nama Dee dalam nada yang Dee benci, jingle sebuah iklan shampoo.

“Stop playing around. Where are you?”Berhenti bermain-main. Ada di mana kamu?

“I’m here!”Aku disini.

Dee melongokkan kepalanya kebawah. Ternyata adiknya ada di sudut belakang.Duduk selonjoran di belakang meja baca. Sebuah laptop dalam pangkuannya.”Sedang apa adikku?”

“Menunggu e-mail dari Dad.” Dee melihat secercah rasa sedih di manik mata adiknya. “And i miss Mommy..”

Ia baru ingat adiknya memang gampang homesick, tapi ia berusaha menenangkannya. “Ini baru tiga bulan, J.. Mom baru akan pulang tiga bulan lagi.Biarkan Mom dan Dad menikmati anniversary mereka..”

“Itu kan bukan waktu yang sebentar”, tanyanya sarkastis.Dee menunduk,tersenyum kecil, mengingat sedikit kisah indah kedua orang tuanya.William Adams yg berkebangsaan Inggris bertemu dengan Moon YoungMi,seorang gadis asal Korea.Cinta bersemi di hati kedua nya dan mereka masih tetap romantis hingga kini.

” Jangan sinis begitu.Itu yang tidak akan kau mengerti sampai kau menikah nanti..”jawab Dee sambil mengacak rambut adiknya sekilas.

“Aahh.. cut that off!(Berhenti berbicara mengenai hal itu!) Aku baru dua puluh tahun.Masih terlalu jauh ”

“Terserahlah, tapi aku bingung, kenapa kau memilih tempat ini? Tidak memilih tempat lain saja?”

“Memangnya kenapa onn?” tanya Julia. “Apa ada tulisan ‘Dilarang Masuk’?”

“Tidak sih cuma, letaknya yang berhadapan dengan…” Dee tidak menyelesaikan kalimatnya.

“Sedang ada gagguan dengan saluran WiFi nya onn.Hanya ruangan ini yang ada sambungan internetnya,.” Jules menunjuk modem yang tersimpan rapi dikolong meja. “Dan lagi, berhadapan dengan ruang kerja tuan besar, tidak cukup untuk menghentikanku berada disini.”

“Hahahaha.. bicaramu, Jules. Sok dewasa!”

“Eh tapi, coba lihat orang yang berdiri disana. Mereka menunggu untuk bertemu Andrew bukan?” Dee menatap arah yang sama denga arah pandanganmata adiknya, ke bagian depan ruangan Andrew.

“Dia kan memang sibuk…” respon Dee singkat. Ia sedang tak ingin mencampuri urusan orang lain sekarang ini. Sebenarnya ia memang tidak suka mencampuri sesuatu yang bukan kapasitasnya.

“Tapi ada yang aneh.”

“Aneh bagaimana maksudmu.?” Tiba-tiba Dee jadi tertarik, “Berarti kamu sudah dari tadi disini?”

Apa mereka tidak curiga kau mengawasi mereka?”Jules menggeleng santai.

“Nggak lah, mereka terlalu sibuk untuk memperhatikan seorang gadis cantik seperti akuu”

“Astaga,Julia… berarti kamu nggak cukup cantik untuk menarik perhatian mereka.” Dee diam saat adiknya memberikan tatapan mematikan atasperkataannya barusan. Ia lalu tertawa kecil. “So, tell me.”

“Mula-mula mereka ada 6 orang….”

“Jules darling, kamu tau kan aku sangat membenci hal-hal yang berkaitan dengan yang berbau angka dan hitung-hitungan sampai ke sumsum tulang?”

“Wait a second,” (Tunggu sebentar).Jules mengangkat tangannya di depan dada, meminta kakaknyauntuk diam sebentar, “Aku tidak memintamu untuk membantu menghitung,tapi menganalisa. Tolong dengarkan ceritaku.”

“Alrite, I’m sorry..” Dee memang salah,tidak seharusnya dia memotong omongan Jules yang belum selesai.

“Sampai di mana tadi? Hehehehe”.

“Pada awalnya ada 6 orang..”

“Oyaya,hhehe, oke, tapi sebelum itu, mengapa mereka harus bertemu dengan Andrew di rumah? Dan onni-ku sayang, sebelum kamu bilang, “Mungkin itu saudaranya”, memang ada ya saudara yang kalau ingin bertemu harus mengantre, di ruang kerja, juga membawa-bawa map? He was their bigboss, am i right?”Ia bos (besar) mereka, bukan?

“He’s the owner, Jules. He can do anything he wants.”Dia pemiliknya Jules,dia bebas melakukan apapun yang dia mau.

Tadinya si adik ingin membantah, tapi percuma, apa yang dikatakan kakaknya memang benar.

“Okelah, mari kita kembali ke topik yang tadi. Ada 3 orang, tapi sebelumnya berjumlah 5 orang”

“And?” Dee bekata sambil menarik kursi lalu duduk di depan Jules. Sepertinya ini akan menjadi pembicaraan yang panjang, dan membingungkan.

“Aku melihat dari masih ada 1 orang yang datang hingga orang terakhir tiba. Lalu Josh oppa keluar sambil membawa notes kecil, sebelum meminta mereka masuk, dia selalu melihatnya. Berarti itu tanda mereka sudah membuat janji sebelumnya, ya kan?”

Dee mengangguk, “It makes sense to me.(itu masuk akal buatku). Mana bagian anehnya?.”

“The guy who’s looking at the window now.”(orang yang sedang melihat ke arah jendela sekarang). Julia menunjuk seorang pria setengah baya yang tampak cemas sambil terus-terusan memandang arloji di pergelangan tangannya, “Dia datang di urutan kedua, tapi belum diizinkan masuk oleh Josh oppa. Padahal Josh oppa sudah melihatnya sejak awal. Kembali pada kata-katamu sebelumnya. Andrew orang sibuk,tidak mungkin menemuinya begitu saja ,jadi mereka harus membuat perjanjian.”

“Kamu memandang mereka sebagai pasien yang harus masuk ke kamar klinik dengan nomor urut?”

BibirJulia mengerucut, “Tidak sesederhana itu, onnie. Mereka membuat janjidengan Josh oppa. Josh oppa pasti menulisnya berdasarkan siapa yang menghubunginya duluan. Well, yang menelepon itu juga tidak tahu pastidi orang yang keberapa, tapi di notes yang ada di tangan Josh oppa pasti tertulis dengan jelas, aku juga yakin Josh oppa lebih mengerti akan hal itu.”

Dee terdiam sejenak. Ia mengagumi pengamatan adiknya yang begitu cerdas dan terperinci. Ditatapnya Jules.

“It was a brilliant analysis. I have to admit it. Tapi sekali lagi kamu harus ingat, kalau Andrew adalah bosnya. Dia yang memegang kendali.Semua keputusan akhir ada di tangannya. Dan pengusaha seperti dia sangat mungkin memiliki skala prioritas. Orang yang mana dengan urusan apa yang harus dia temui dan selesaikan terlebih dahulu. Jangan lupa juga kalau dia selalu melakukan hal ‘sesukanya’.”

Julia akhirnya berusaha meyakinkan diri dengan apa yang dikatakan kakaknya. Menelan bulat-bulat sesuatu yang tidak diamininya.

Tapi sayang, ternyata analisa akhir Dee salah total. Karena dibalik tembok itu, kecemasan Julia terbukti benar.

“Bisakah kau menolongku? Aku tak bisa melihat anak gadisku cacat seperti itu.Entah bagaimana si dokter tolol meninggalkan gunting di samping jantunganakku.Sekarang hidupnya tergantung pada obat-obatan.Dia… gadisku yang paling berharga”.

Andrew mengamati pria setengah baya yang terisak di hadapannya. Wajahnya memerah menahan amarah dengan nafas yang tersengal karena senggukan tangis. Raut mukanya terlihat lebih tua sejak terakhir kali bertemu dengannya, dua bulan lalu. Dan dalam kurun waktu itu, bencana melanda keluarganya.

“Bagaimana kabar anakmu?”

“Sedang menunggu copy medical recordnya selesai, untuk pengobatan ke Den Haag.Putriku sudah sangat menderita karena keadaan ini”.

Pria itu menangis lagi.Ia menundukkan kepalanya diantara meja dan tubuh gempalnya.Hati Andrew merasa iba sekaligus sakit melihat kesedihan pria yang sedang berduka tersebut.Begitu menyiksa.

“Ahjusshi..”Andrew lalu menyodorkan segelas air dan selembar tissue. Setelah pria tersebut menyeka airmata dan terlihat lebih tenang, baru ia melanjutkan bicaranya.

“Percayalah padaku seperti anda mempercayai Ayah.Dokter itu akan merasakan apa yang dirasakan putrimu tak lama lagi.Tidak perlu khawatir”.

“Tentu, tentu”. Secercah harapan tampak dari matanya.”Aku mohon terimalah pengabdian keluargaku sebagai balasan kebaikan hatimu,Tuan”.

“Jangan pikirkan masalah itu, fokuslah pada pengobatan putrimu.”

Andrew menepuk tangan pria itu,mengarahkannya menuju pintu keluar. Iamengucapkan berjuta terima kasih pada Andrew, sampai punggungnyamenghilang di balik pintu dengan tatapan Andrew masih mengarah kesana.Cukup aku saja yang kehilangan gadis kecilku…

Andrew lalu menghela nafas lega, one problem solved.

“Apa jadwal kerja Aiden masih kosong untuk besok?” tanya Andrew pada Joshua,yang langsung ditanggapi Josh dengan sebuah gelengan.

“You’ve arranged him a trip to Japan, to see Bryan.”

“Ah ya…, Andrew ingat permintaan nya pada Aiden.Then make it tonight. Call Bryan first”.

Joshua segera menelepon, sementara Andrew memperhatikan sambil membenahi kancing lengan kemejanya yang lepas.

Tak lama, Joshua mengangkat jempolnya dan berkata,”All set”. Bibir Andrew tertarik ke atas, ekspresinya menujukkan sebuah kepuasan.

Joshua hanya bisa menahan senyum melihat seringai kemenangan di wajah Andrew.Masih teringat jelas perkataan dari ayah pria yang sdeng duduk dihadapannya, “Keep your friends close, but your enemies closer”, yang baru saja berhasil diaplikasikan dalam kehidupan nyata oleh sang anak.Jagalah temanmu agar selalu dekat (denganmu), tapi buatlah musuhmu lebih dekat (denganmu).

Lalu ia langsung teringat tentang sesuat yang ingin disampaikannya sejak tadi.

“Orang itu datang awal ,And. Mungkin sebaiknya kitabiarkan dia masuk..” kata Josh sedikit berbisik karena masih ada tamu yg menunggu di sofa dalam kantornya

“Setelah bertahun-tahun tak pernah menampakkan wajahnya dan baru kembali di saat ia terpuruk, apadia…” Andrew memainkan penanya dengan mimik tidak suka, “Ah sudahlah,Itu tidak penting.He is the last person i want to see and that’s order”.

Tak lama setelah ia menyelesaikan kalimatnya, pintu berayun terbuka,memberikan pemandangan perpustakaan yang pintunya juga dibiarkan terbuka. Dua orang gadis terlihat di sudut perpustakaan, terlibat dalam perbincangan seru yang tak bisa di dengarnya.”Joshua, close the door…” perintahnya pada Joshua.

Detik itu pula ia secara tak sengaja beradu pandang dengan salah satu gadis itu. Mata mereka bertemu. Saling bertatapan……

Zzzt..Zzzt…Zzzt…

Seketika itu juga tubuh Andrew serasa dialiri aliran listrik ribuan volts.Darahnya mengalir begitu cepat, jantungnya berdetak sangat kencang,dadanya sesak sampai ia tak bisa bernafas, kepalanya pusing. Ia kehabisan oksigen dalam otak yang membuatnya terbatuk.

“UHUK UHUK UHUK UHUK…”

Mendadak semua orang di ruangan itu jadi sibuk menanyakan apa dia baik-baik saja. Ada aliran kekhawatiran melihat kondisi kesehatan si pewaris tunggal.

And mengangguk sekilas, mengambil sapu tangan dari sakunya gan berdehem sebentar. Lalu meminta Josh mengambilkannya segelas air.

“If that’s what happen, you’ve just struck by a thunderbolt, son…”

Kata-kata sang ayah belasan tahun yang lalu langsung terngiang-ngiang di telinganya….

“Apakah kita bisa melanjutkan urusan bisnisnya, Mr. Tan?” sebuah suara menginterupsi, menghaluskan pertanyaan apakah bosnya bisa mendengarkan permohonan bantuannya.

“Bisa-bisa..” Andrew menjawabnya dengan sembrono.Membuahkan kerutan halus di dahi Joshua.

Tidak dengan nya, impossible…infamita.

Tapi ucapan Ayah tidak mungkin salah.Ia telah mengalaminya sendiri…….

Andrew menggelengkan kepalanya yang tertutup satu tangan. This ain’t happening.

“Apa kau yakin, And? Dilanjut saja besok. You don’t look so fine..”Kamu terlihat kurang sehat.

Andrew menggelengkan lagi kepalanya, tak percaya. Dari hal yang sangat tidakdiinginkannya. Inilah hal yang berada di urutan paling atas.

-to be continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s