Choi Chronicles Chapter 4: Escape From Choi-catraz!

sebelumnya, chapter ini agak panjang..
jadi butuh waktu agak lama untuk bacanya hhe
but please, enjoy !

Escape From Choi-Catraz

Marcus menggeliat malas. Sudah berapa jam ia tidur? Tapi rasa kantuknya tidak juga hilang. Ia menarik selimutnya hingga hampir menutupi puncak kepalanya. Kepalanya masih terasa sedikit pusing.
Pasti karena pengaruh jetlag.
Marc hanya bisa menghela nafas. Ia terlalu malas untuk bangun dan mencari aspirin yang biasa digunakannya untuk menghalau pening menghadapi ujian. Ternyata pulang kembali ke Seoul sama melelahkannya dengan ujian akhir.
Seberkas cahaya matahari yang menyelinap masuk ke balik tirai memancarkan sinar yang terasa panas di kulit Marcus. Sejak kapan Seoul sepanas ini di pagi hari? Ataukah sebenarnya ini sudah siang?
Mau tidak mau ia bangun, berjalan gontai menuju kamar mandi. Mencuci muka. Mencoba menghapus kantuk yang akan terus menderanya jika ia selalu bermalas-malasan seperti tadi.
‘Knock, knock’
Terdengan suara ketukan pintu. Marc mengambil handuk dan mengelap wajahnya yang basah karena siraman air. Ia belum sempat mandi atau pun mengganti baju.
Haiish, siapa ini
“A moment, please” suara yang keluar terdengar tidak biasa, mungkin efek lelah dan baru bangun. Nyawanya belum sepenuhnya berkumpul.
Di balik pintu, begitu mendengar jawaban Marc, Dee menggumam pada dirinya sendiri sambil menepuk dahinya..
“Astaga.. perbedaan zona waktu! Aku lupa kalau di London masih..” lalu Dee menghitung mundur dengan jarinya.. “Sekarang di Seoul pukul 12 siang.. jadi 11, 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3.. JAM 3 PAGI?? Pabo! Pantas suara Marc terdengar berat, pasti dia masih mengantuk. Sebaiknya aku pergi saja.”

Dee baru akan pergi ketika pintu berderit terbuka. Marc, hanya dengan kaus tidur warna putih, berdiri di ambang pintu. Wow, gaya messy-nya. Sepertinya ketampanan memang keturunan keluarga ini ucap Dee dalam hati.
Rambut acak-acakan itu, geez, Dee harus mengontrol detak jantungnya.
“Miss….” Marc berusaha mengingat, “Adams, is there something important?”
Nada suara yang tidak bisa dibilang ramah dan cukup sopan itu menyampaikan pesan yang jelas, ‘Aku tidak mau diganggu olehmu’. Terbaca jelas oleh Dee. Marcus masih sama dinginnya seperti semalam. Tapi apakah sebenarnya ini genetic? Andrew juga sama dinginnya seperti ini.
Pandangan mata Marc jatuh pada nampan yang dipegang Dee, tatapan dinginnya berubah melunak. Apa dia membawa makanan ini untukku?
Kegugupan terlihat di wajah Dee, “I remember clearly that you didn’t have your dinner yesterday. So I come here and bring you some food. But then, I wake you up. I forget about jetlag. I’m really sorry…”

Mimik meminta maaf yang ditampilkan Dee membuat Marc sedikit canggung. Ia menerima nampan yang diberikan Dee sambil menampakkan senyum yang aneh. Bukan karena tidak tulus, tapi murni karena ia bingung harus berlaku seperti apa.
Marc memutuskan untuk menarik kenop pintu kamar dan menutupnya. Ia berjalan menuju ruangan kosong depan kamarnya di mana sebuah sofa putih dan LCD tertata rapi. Marc duduk, diikuti Dee yang juga ikut duduk setelah dipersilahkan Marc.
“Chippy? Herring?”

Ekspresi wajah Dee sedikit bingung mendengar Marc mengatakannya. “Emm, ya..that’s made from herring*”. Emm, ya itu terbuat dari ikan herring.
“That’s how they called fish and chips now..” Kata Marc sambil tersenyum pada piringnya.
jangan bingung, itu sebutan untuk fish n’ chips sekarang ini.

“Owh.. I see..” Dee mengangguk sambil sesekali memperhatikan Marc yang tampak menikmati sekali ‘sarapannya’. Jadi Dee berinisiatif untuk memulai obrolan dari pada ia harus membisu sambil mengatur detak jantungnya yang berpacu tak karuan.
“What college were you?” Apa nama collegemu?
“Corpus.. Christi*” gumam Marc sambil memasukkan potongan chips lain ke mulutnya.
Dee berdecak kagum, “Wow you’re on the same college with a man that has been described as ‘super-intelligent’ by one of the famous papers in England. You’re amongst them!”
Wow, berada di satu college dengan pria yang di deskripsikan sebagai orang yang ‘super-pintar’ oleh salah satu media kenamaan di Inggris.
katanya dengan penuh semangat. Dee selalu tertarik dengan sesuatu yang berkaitan dengan Inggris, terlihat dari binar matanya.
“Hm~” gumam Marc tak terlalu tertarik. “I was lucky, that’s all..” Marc menanggapi ini dengan biasa saja. Ia tampak lebih menikmati makanannya dari pada usaha Dee untuk mengobrol.

Marc sadar sikapnya dingin. Wanita itu cukup baik, sangat baik malah. Tetapi tidak ada salahnya kan menjaga jarak dengan orang asing? Apalagi mereka baru kenal. Dan Marc tidak tahu pasti mengapa mereka ada di sini. Belum ada yang mau menjelaskan hal itu kepadanya.
Julia dan DeeDee..
Marc berhasil mengingat nama mereka. Tapi tidak ingat mana yang bernama Dee, mana yang bernama Jules. Mereka berdua mirip. Yang di hadapannya ini, Dee? Atau Julia?Dya hanya tau kalau yang sedang bersamanya adalah sang kakak.
Ia kesulitan. Tapi biarlah, toh liburannya masih agak panjang. Masih ada banyak waktu untuk mengenal mereka berdua. Bukankah tadi dia sudah bersikap cukup sopan dengan membukakan pintu kamarnya?
“I’m so full…” Aku kenyang sekali.
Makanannya enak sekali, mengembalikan ingatannya akan makanan yang dibuatkan ibunya saat masih kecil dulu. Marc jadi mengantuk dan ingin tidur lagi.
Hoahm~
Setelah pembicaraan tadi, mereka terkurung dalam diam. Dee sebenarnya masih ingin mengobrol lebih banyak, menggali lebih banyak tentang sosok misterius ini. Tapi Marc tampak sedang tidak mood. Jelas Dee tak bisa memaksa. Bukankah gesture Marc sudah terbaca dari awal?
“So, Marc.. enjoy your rest.” Dee bangkit dari duduknya. “I still have some things that need to be done. See you :)” Marc, selamat beristirahat. Masih banyak hal yang harus kukerjakan. Sampai nanti.
Marc menaruh nampan di meja sisi sofa lalu ikut bangkit dari duduknya..
“Eum~” gumaman Marc membuat Dee menoleh, Marc melanjutkan. “Kamsahamnida, noona.”

Choi mansion yang siang itu begitu tenang, tiba-tiba terusik oleh sebuah teriakan yang ditujukan pada Andrew, sontak membuat semua orang kaget.

“I want to see Andrew Choi!” Aku inign bertemu dengan Andrew Choi!

Si tamu berkata lantang sambil menggedor pintu. Nathan yang sedang berada di sekitar situ, dengan polos membukanya. Salah. Itu tindakan yang salah karena si tamu itu mendorong Nath agar dirinya bisa masuk ke rumah. Wajah lelaki itu terlihat sangat marah,seperti baru disiram ribuan bara api.
Mendengar ribut-ribut di ruang depan, Josh mengakhiri percakapannya dengan Marc di dapur dan langsung menghampiri si tamu, berusaha mengajak bicara baik-baik. Teriakan-teriakan itu juga membuat kedua adik-kakak Adams turun ke lantai satu. Joshua sadar, lama-lama para gadis itu akan tahu juga.
“Mr. Goo, please…”
“Aku bosan mendengar omong kosong. Panggil bosmu!”
Saking sibuknya berdiplomasi, Joshua tidak menyadari saat pria itu mengeluarkan benda yang berkilau dari belakang sakunya. Pria itu dengan tiba-tiba menempelkan ujung pisaunya ke leher pria yang berusia satu tahun lebih tua daripada Andrew tersebut. Setetes darah mengalir dari leher Joshua.
“Haa!” Jules dan Dee menutup mulut mereka dengan tangan, membuat Dennis yang baru datang dan sangat sadar akan situasi ‘panas’ ini buru-buru menggiring keduanya keluar ruangan. Meminta mereka untuk tenang.
Ujung pisau yang masih menempel di leher Joshua membuat suasana berubah hening. Tidak ada yang berani bersuara. Sebuah alur berwarna merah terbentuk dari ujung pisau sampai ke leher bawah Josh. Tiba-tiba terdengar suara pintu ruangan kerja terbuka dan langkah kaki menuruni tangga. Andrew berjalan dengan langkah anggunnya..Tanpa ekspresi kaget ataupun terlihat takut.
Pisau langsung mengarah padanya. Dengan tenang, ia malah membiarkan ujung benda tajam itu menempel di bagian atas kiri kemejanya.Tepat di jantungnya.
“Go ahead, stab me. What are you waiting for?” Ayo, tusuk aku. Tunggu apalagi?

Marc yang sedari tadi hanya bersandar di dinding untuk menonton, maju selangkah ke depan. Ia berniat melakukan sesuatu membantu kakaknya. Awalnya ia berpikir ini hanya akan menjadi ‘pembicaraan’ tidak penting—tapi seru—seperti yang selalu dilakukan kakaknya ketika ada tamu datang untuk marah-marah. Ia tak menyangka ini akan melibatkan benda tajam. Namun langkahnya ditahan Joshua.
Ia melemparkan tatapan yang diartikan Marc sebagai : “Kau tahu kakakmu melakukan ini dengan alasan, dia bukan orang bodoh!”
Marc mendengus dan langsung berbalik naik ke atas dan membanting pintu.
Di kamar, ia banyak berpikir tentang apa yang terjadi barusan. Apa lagi yang dilakukan Andrew kali ini? mengingat Andrew bukan si playboy yang doyan gonta-ganti cewek, ia sangsi orang tadi adalah bapak seorang gadis yang marah karena anaknya dihamili Andrew. Jadi ini pasti berhubungan dengan bisnis keluarga mereka.
Tak lama pintu diketuk, Joshua berdiri di ambang pintu dengan sebuah senyum terkembang. ia masuk ke kamar Marc dan duduk di salah satu dipan. Seakan kejadian tadi hanyalah halusinasi Marc.
“Semuanya sudah selesai, Marc. Mau melanjutkan pembicaraan tentang Masserati tadi?”

Di kantor, Andrew sedikit meliukkan kepalanya, melenturkan lehernya yang agak pegal. Ia menoleh pada Nath.
“Nathan.”
“Jangan ulangi kesalahan bodohmu tadi”.
“Maaf Tuan, saya akan lebih berhati-hati”.
“Alrite.Now call Aiden.”
Nath mengangguk. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Dengan segera ia mengangkat telepon dan memutar sebuah nomor luar kota dengan kode area Mokpo.

[Kitchen, 11.50 p.m.]

“Pergantian penjaga hanya berlangsung 10 menit tepat tengah malam.Tidak kurang, tidak lebih. Sebelumnya, kita masih harus masuk ke kantor And. Ingat Jules, kita hanya punya waktu 20 menit untuk lari dari sini!.”
“Tidak kurang, tidak lebih” Jules mengambil alih kata-kata kakaknya.
Dee menepuk kepala Jules, “Jangan ambil kata-kataku! I’M SERIOUS!.”
“Hehehe. Okee. Tidak mungkinlah aku memperlambat rencana kita setelah kejadian tadi pagi. Aku takut kita ikut gila juga seperti mereka jika terlalu lama disini!”.Reaksi Jules tadi hanya dijawab Dee denggan sebuah anggukan.
Dee dan Jules bergegas menuju kantor Andrew. Rencana melarikan diri malam ini harus berhasil atau mereka harus menyusun ulang rencana sensasional ini. Mungkin bagi sebagian hal, sesuatu yang terorganisir akan membuat segalanya lebih efisien, tapi tidak dengan melarikan diri. Sistem rumah ini yang terorganisir dengan sangat rapi membuat ruang gerak keduanya semakin sempit.
Sesampainya di sana, ternyata ruang kerja itu kosong. Menandakan tuannya belum kembali dari pekerjaan kantornya yang punya jadwal gila.
YES! It means, their job will get easier. Berarti tugas mereka jadi lebih mudah.
“Jules, Two minutes. It’s all yours~” Dee menyalakan stopwatch di jamnya. Mulai menghitung mundur 120 detik, waktu yang ia berikan pada sang adik untuk menemukan kunci di ruangan yang cukup besar itu. Ia akan berjaga di pintu, kalau2 ada yang datang.
Julia mulai mencari dalam kegelapan, hanya diterangi sebuah lampu kerja di meja. Ia tak berani menyalakan lampu, terlalu beresiko.
Damn it!
Tidak terlihat sama sekali. Ia tak bisa menemukan apapun kecuali berkas-berkas di meja. Ia menangkap tulisan ‘Kim’s Hotel Merger Planning -confidential-’ di salah satu berkas tersebut. Tapi ia tidak memedulikannya.
Di mana sih si sombong itu meletakkan kunci-kunci bodohnya?
Jules kembali mencari. Mencoba menerka di mana kunci itu diletakkan. Meja kerja sudah pasti tidak mungkin karena sejauh yang dilihat Jules, isinya hanya kertas, amplop, dan notes.
“Mmm, Laci, laci..” Julia menggumam sambil terus mencari kunci. Sebuah sahutan dari balik pintu, kakaknya.
“Julia, 1 minute left!”
Jules mendengus mendengar perkataan kakaknya. Itu hanya membuatnya semakin panik dan sulit untuk berkonsentrasi. Ia menggeser tempat pencariannya ke sebelah kiri. Aiish, kenapa tidak terpikir dari tadi?
Dia melihat ke arah lemari besar dimana terdapat banyak laci di sana. Ada sekitar lima atau enam laci.
“Wish me luck”.
Laci pertama, berisi tumpukan album foto. Sekilas ia melihat foto si tuan muda sombong, adiknya yang jarang berbicara juga bersikap masa bodoh, dan seorang gadis kecil berkucir dua mengenakan topi bunga. Di mata Jules, gadis berkucir dua itu terlihat paling normal.
Buang-buang waktu, ia beralih ke laci kedua.
Banyak kotak-korak kecil transparan yang berisi kunci. Tapi semua lacinya terkunci.
“Hey J, tinggal 40 detik lagi!”
“Onnie, aku harus menggunakan kunci untuk membuka kotak ini, all locked up! Orang menyebalkan itu terlalu paranoid menjaga hartanya!”
“Tapi cepat! Tinggal 20 detik! Perjalanan keluar akan memakan waktu lama.”
Jules mencari akal, ia melepas jepit rambutnya dan mematahkannya. Ia memasukkan ujung jepit rambutnya. Setelah kotak itu terbuka, terlihat ada banyak sekali kunci disitu. Semuanya kunci mobil. Julia mencoba mencari logo yg ia kenal
Tapi…
“10… 9…” Dee mengingatkannya.
Mau tidak mau, Jules mengambil tanpa memilih dan berlari keluar dengan berjingkat. Mengecilkan suaranya semaksimal mungkin.
“Ini… Apa?” kata Julia sambil menyerahkan kunci mobil pada kakaknya dengan nafas terengah.
“Gampang, ini Range Rover. Let’s go!.”

Mereka sampai di garasi mobil dengan nafas terengah engah. Dee sempat melihat jam tangannya tadi, hah..perjalanan kesini memakan waktu 5 menit. Jadi waktu yg tersisa adalah 13 menit.
Dikurangi pergantian penjaga 10 menit,jadi yang mereka punya kurang dari 3 menit.
“Bantu aku, Julia! Waktu kita tidak banyak!” Tidak lama kemudian, mereka mulai menyusuri “lautan mobil” itu. Sungguh, benar-benar banyak sekali. Tidak heran karena pemiliknya memang gila. Sekali lihat saja Dee tahu tidak ada satu pun dari mobil ini yang dijual dengan harga dibawah empat puluh ribu dollar. Showroom dalam rumah.

“Pindah kesebelah sana. Aku menyusuri bagian sebelah sini”.
“DISANA!”
“DISINI!”
“TIDAK, BUKAN!”
“IYA, BENAR!”
“KENAPA TIDAK KITA JUAL SAJA SEKARANG MOBIL YANG BUKAN RANGE ROVER?!”
“JELAS TIDAK MUNGKIN DONG, JULIA…. ASTAGAA!”

Karena panik dan waktu yang semakin sempit, omongan mereka jadi melantur.
Dee mulai mencari dengan lebih seksama. Ternyata susah juga.Ketika akhirnya berhasil menemukan mobil yang dimaksud, muncul masalah baru.Ada 5 jenis Range Rover di garasi ini.Dengan tempat yang berjauh-jauhan. Huh. Orang ini.
Waktu terus berjalan, di detik-detik terakhir barulah ia menemukan mobil yang tepat. Sebuah mobil dengan penampilan yang sangat kuat. Range Rover Evoque. Posisi mobil yang terletak di ujung garasilah yang membuat Dee tadi tidak menemukannya.
Jules membuka pintu kanan dan masuk. Diikuti Dee yang masuk lewat pintu kiri. Baru saja Jules duduk, ia kehilangan kata.
‘Haa.. SETIRnya ada di KANAN!”
“Range Rover Evoque, keluaran Inggris dengan kualifikasi yang sangat memuaskan. Baru diluncurkan ke pasaran, hanya ada 700 mobil untuk segmen pertama. Basisnya menggunakan konsep LRX dengan mesin turbodiesel 2.0 liter dan motor listrik
Dee tersenyum, bangga akan kemampuan mengingatnya.
Menjadi pilihan banyak pesepakbola di Inggris termasuk kapten timnas mereka, si pemain belakang Chelsea”.

“ONNIE, KAMU MASIH SEMPAT MENJELASKAN HAL SEPERTI ITU? AKU BAHKAN TIDAK BISA MENENMUKAN TEMPAT KUNCI UNTUK MENYALAKAN BENDA INI!”
“Tidak mungkin! CARI TOMBOLnya!
“OKE, OKE.. TENANG!”
Jules melengos. Ia benar-benar membenci pemilik mobil ini. Sok.
GREEET..Pintu garasi terbuka.
Jules coba memajukan mobilnya, tapi ia salah. Ia malah memundurkannya dan ‘menyenggol’ sebuah sedan putih.
“Oh My God, Jules! Lihat,kau menodai Audi anggun itu dan memintaku untuk tenang?!”
Jules mengacuhkannya, ia lebih panic karena ternyata hitungan mereka tidak pas. Penjaga telah selesai berganti dan kini dua penjaga berdiri di depan gerbang dengan wajah bingung
“Percaya padaku, onnie”
Tanpa pikir panjang,Julia menginjak gas menuju pintu gerbang yang tertutup. Para penjaga yang tidak berhasil mengantisipasi memilih kabur sebelum SUV itu melukai mereka.
“JULES…. AAAAAAAA!”
“BRAK!!”
Pintu gerbang yang kokoh itu menjeblak karena ditabrak paksa. Dee hanya sempat menyumpah sekali, karena mobil itu sekarang punya banyak ‘luka’.

“We’re freeeee!!~ Hahahahahaha…. aku sebal sekali dengan pria sombong itu, unn! Mukanya minta dilempar hak tinggii!” seru Jules dengan muka campuran senang dan sebal.
“Aku akan meminjamkanmu wedges-ku! Hahahaha” mata Dee berubah menyipit “Siapa sangka kabur dari ‘penjara’ Choi-Catraz akan semudah ini?. That was fun!”
Perkataan Dee disambut persetujuan oleh adiknya. Keduanya tampak senang. Meski agak canggung menyetir dengan stir kanan di jalanan kiri, Jules mencoba mendengar instruksi kakaknya.
“Jangan belok seenaknya!”
“Iya iyaaa..”
Dee memandangi jalanan di sekelilingnya. Belum masuk jalan raya, ia menebak ini adalah jalan khusus, satu-satunya akses untuk masuk ke rumah yang baru saja mereka tinggalkan.
Sepasang titik bercahaya terlihat dari jauh, lampu mobil.
“Ngebut, J! Tampaknya ada sedikit masalah!”

Andrew kelelahan, rencana kerjasama menggabungkan dua hotel besar menjadi sebuah hotel megah menyita pikirannya.Belum lagi ulah kedua gadis Adams yang semakin menjadi. Ia memijit pelipisnya sambil mencoba menstabilkan laju Ferrarinya di jalanan sepi itu. Kurang dari lima menit lagi ia akan sampai di rumah.

“Eh? gumamnya ketika melihat sepasang lampu mobil yang berasal dari tempat tinggalnya. Siapa yang mau pergi?”
Ia memicingkan matanya, mencoba berkoordinasi dengan cahaya redup itu untuk dapat melihat lebih jelas. “Shit!” desisnya ketika sadar bahwa mobil itu adalah Evoque barunya.

Tidak ada orang rumah yang berani memakai mobilnya—apalagi Evoque-nya!—.Sekelebat bayangan muncul di benaknya. Pasti dya, hanya dya yang punya nyali unutk melakukan hal senekat ini. Goddammit!..
You think you can runaway from me? Sorry, not even on your wildest dream! Kamu pikir kamu bisa lari dr Andrew Choi? Jangan mimpi!.

Andrew melajukan mobilnya lebih cepat.
Di dalam Evoque, Jules dan Dee yang telah bernafas lega, kembali terpacu oleh adrenalin karena ‘aksi spektakuler’ mereka diketahui oleh ‘sepertinya mereka berdua tahu siapa’.
“Are you sure it’s him, onnie?”
Dee melongokkan kepala. “E… OH CRAP!” OH SIAL!
“W…
“DRIVE FASTER! FULL SPEED!” .LEBIH CEPAT! KECEPATAN PENUH!

Jarak kedua mobil itu semakin mendekat. Julia mengerahkan segala kemampuannya.
“CKIIIIT….” Suara ban beradu dengan jalan dan berdecit. Sial! Si bodoh itu selalu saja pamer. Diinjaknya pedal gas dengan tenaga penuh.
Sementara, di dalam Ferrarinya, Andrew bisa melihat kalau Evoque nya semakin menjauh. Ia menambah kecepatan untuk mengejar.Sekalinya ia mendekat, mobil itu menjauh.
Jadi, tak ada jalan lain gumamnya.
Andrew membanting stirnya untuk menyalip dan memalangkan mobilnya di depan mobil itu. Menabrakkan mobilnya akan membuat kerugian dua kali lipat, juga mungkin berakibat fatal bagi si pengemudi.
Tapi percuma, sebelum Ferrari nya sampai di depan mobil barunya tersebut, Evoque itu oleng dan menabrak sebuah pembatas jalan. Terdengar desis airbag yang keluar dari dashboard.

BRAKK!!!”
Kepala Jules terbentur, ia merasakan pening luar biasa. Ia mencoba menengok ke arah Dee dan agak sedikit pucat melihat kakaknya terantuk dashboard cukup keras sehingga mengakibatkan keningnya berdarah. Tampaknya airbag tidak banyak membantu.
Dengan berat, ia mengangkat kepalanya. Dalam cahaya yang samar, ia melihat sepasang mata menatapnya dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.
Marah? Atau khawatir?

Andrew, masih dengan setelan kerjanya yang tanpa jas, menatap kedua kakak-beradik itu dengan tajam. Mengacuhkan suara rintihan karena luka yang terasa perih. Setelah tabrakan tadi, mustahil tidak ada lecet sedikitpun. Dee dan adiknya hanya bisa menahan sakit dan perih. Terutama di bagian kening.
“Entah apa yang ada di otak kalian. Tahu berapa harga mobil yang baru saja kalian hantam dengan Evoque-ku?”
Penyakit Julia kumat, ia ‘gatal’ mendengar ocehan Andrew. Harga dirinya tersakiti. “Kau tahu berapa harga keningku? Priceless!”
Dee menyenggol adiknya. Andrew menatap mereka lebih tajam lagi. “Aku tegaskan sekali lagi, jangan pernah mencoba untuk melarikan diri dariku,” ia menunjuk Jules dengan telunjuknya. “Terutama kau! Dan jangan pernah menyentuh apa yang bukan milik kalian!”
“Ah, sudahlah And, jangan terlalu keras pada mereka. Itu yang membuat mereka tidak betah.. kau terlalu keras.” Dennis yang juga berada di situ, mencoba membela kedua gadis itu. Tapi Andrew menyelaknya, “Aku menyuruh mereka tinggal di sini, aku tidak menyuruh mereka betah tinggal di sini!”
Kenapa lagi sih hyung? Janganlah melebih-lebihkan.Bagimu Range Rover hanya ‘sebuah mobil murah’. Kau bisa membeli lagi,berapapun yang kau inginkan.
Jadi,hilang satupun tak apa-apa. Daripada nyawa kedua gadis ini yang melayang?” tiba-tiba terdengar suara Marc menginterupsi. Ia baru saja turun dari tangga, berniat mengambil sekotak susu dari dapur. Tapi ternyata ada ‘pembicaraan’ kecil di dapur yang membuatnya tak nyaman.
“Whatever, now all of you, off to bed! I don’t wanna see you, trying to escape again! I mean it!”

Andrew membetulkan kancing kemejanya dan berjalan kembali menuju kamarnya di lantai dua. Kenapa adiknya malah membela the outsiders? Tapi Marc memang selalu begitu, masa bodohlah.
Dennis menatap kedua gadis itu dengan tatapan iba, “Aku harap kalian tahu tadi itu salah..”, lalu berjalan mengikuti Andrew ke atas.

Kini hanya tinggal mereka berdua, dan Marc yang baru saja selesai menghabiskan kotak susu cokelatnya dengan amat santai, seakan melarikan diri dari rumah ini adalah sesuaru yang memang seharusnya. Marc lalu mengambil sesuatu dari laci putih di ujung dapur dan memberikannya pada Dee.
“What a great attempt, nice try… Marc menatap kedua kakak-beradik itu sambil bertepuk tangan.
Kalian sungguh-sungguh…luar biasa. That was cool, but….Marc seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi.
“Begini saja, aku minta maaf atas tindakan hyungku tadi.Mengenai luka kalian, jangan lupa dibersihkan dulu dengan antiseptic yang kuberikan barusan, Gunakan sebelum tidur.
Julia, noona.. nite everyone.Get well soon”
Pria itu kemudian berjalan pergi.
Dee menatap botol yang diberikan Marc tadi. Dee tersenyum,terharu akan apa yang dilakukan Marc barusan,
Ternyata, dya tidak sedingin itu kok….

[Haneulsek Apartment, past midnight]

Seorang bapak setengah baya berdiri di depan sebuah lift. Ia menoleh dan mendapati seorang pria dengan yang mengenakan topi fedora dan sebuah jas yang menutupi kaus putihnya berdiri santai menunggu lift seperti dirinya. Sejak di tempat parker tadi, ia tidak melihat seorang pun, bahkan security juga tidak ada. Pria muda ini adalah orang pertama yang dilihatnya. Terlalu sepi seperti ini sedikit agak aneh.
“Selamat malam..” sapanya pada pria muda yang tidak lebih tinggi dari dirinya tersebut. Ia menilai, pria ini seharusnya jadi model saja, tapi tampaknya ia tidak terlalu tinggi untuk menjadi model runaway, mungkin model iklan saja sudah cukup.
“Malam…” balas pria muda itu.
Mendengar respon yang singkat dari pria itu, Mr. Goo mengurungkan niatnya untuk mengonbrol lebih lanjut. Ia tidak suka berbicara dengan orang yang sombong. Mengingatkannya akan seorang bos muda menyebalkan yang baru saja diancamnya tadi siang.
TING!
Lift terbuka, ia masuk dan menekan angka 10, lantai di mana apartemennya berada. Si pria muda itu juga ikut masuk tanpa menyebutkan akan naik ke lantai berapa. Mr. Goo berasumsi mungkin ia adalah penghuni baru penthouse lantai paling atas karena sekilas, ia melihat merk vest yang dipakai pria muda itu. Merk yang sama dengan merk vest yang dikenakan putranya sekali setahun.
Angka penunjuk lantai di atas pintu lift terus naik.
1..
2..
3..
4..
5..
Tiba tiba ia merasakan sesuatu mendesaknya dari belakang. Firasatnya buruk. Lalu ia merasa perih di sekitar lehernya. Ketika mencoba melongok, ia mendapati kemejanya sudah basah. Noda merah berleleran dari bawa dagunya.
Nafasnya tercekat, seperti dicekik oleh tangan yang sangat kuat.Pandangan matanya meremang. sayatan itu nyaris memutus nafasnya, membuatnya lemas dan hampir terjatuh karena kehilangan banyak darah. Namun pria muda itu menahan beban tubuhnya.Pria muda itu menarik pisaunya dan
JLEB….
“Andrew Choi says Hi…”. Andrew Choi kirim salam.
Sebuah tusukan di dada kiri sebagai pengantar perpisahan.
What a sweet present.

Pria bertopi fedora itu kemudian melepaskan sanggahannya pada sang korban. Menendangnya dengan lutut sampai terjatuh.Membiarkannya tergeletak di lantai marmer lift yang dingin. Kepalanya membentur pintu lift. Lalu ia mengelap ujung pisau lipatnya dengan ujung kemeja tubuh tak bernyawa itu, ia tak mau barangnya ‘ternoda’.
TING!
Si pria muda melangkahkan kakinya untuk keluar dari lift. Tapi langkahnya terganjal oleh onggokan tubuh pria yang baru saja dibunuhnya tadi.Dengan santai, ia malah lanjut berjalan di atas tubuh yang menghalanginya itu.Menginjaknya seperti sebuah barang. Menatap sang mayat dengan pandangan kasihan yang meremehkan, seraya berjalan sambil memainkan pisau lipat Victorinox miliknya, juga membuat seringai lebar di bibirnya.
Sebuah tanda kemenangan.

*Herring:Sejenis ikan yang biasa dipakai untuk masakan fish and chips (fillet ikan yang disajikan bersama potongan2 kentang yang agak besar). Ikan favorit untuk masakan di Inggris. Bentuknya agak besar dan gendut.

*Corpus Christi College: Sistem kuliah di Inggris, meskipun namanya universitas, bukan berarti itu tempat kita kuliah. Masih dipisah-pisah lagi. Namanya college. Nah di college itu kita baru kuliah dengan berbagai fakultas dan jurusan. College nya banyak banget. Kadang-kadang ada klasifikasi tertentu untuk college itu, misalnya college A khusus buat cewek, college B itu untuk yang S2 aja. Corpus Christi hanya sekian nama dari college-college yang ada d Oxford University.Dan untuk mahasiswa tahun pertama harus tinggal di dorm.

………………………………………

Comment and jempolnya, kamsahamnida

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s