Choi Chronicles Chapter 3: ‘WELCOME HOME, BOY!’

Dennis, Jules, dan Dee sudah jampir setengah jam menunggu di gate F, di mana Marc akan turun dari pesawatnya. Tapi belum ada tanda-tanda pesawat mau pun penumpangnya sudah tiba. Jules sibuk memperhatikan orang-orang yang lalu lalang, itu adalah hal favoritnya. Sedangkan Dee dan Dennis asyik mengobrol.
“Mana Marc?” tanya Dee pada Dennis. Setelah mendengar deskripsi Dennis tentang sosok Marc kemarin, sebenarnya Dee jadi sangat penasaran dengan versi aslinya. Lagipula, tidak gampang menemukan seorang Oxonian di tanah airnya.
“Entahlah,” Dennis mengangkat bahunya, “Harusnya dia sudah sampai.. eum~”

“Hyung!” sebuah suara membuat ketiganya menoleh ke satu arah. Dari balik pintu kaca bandara, terlihat seorang pria dengan mantel hitam melambaikan tangannya. Ia mengenakan kacamata hitam berbentuk kotak yang tampak pas sekali di wajahnya.

“Marc!” Dennis memeluk pria tinggi di hadapannya dengan erat. “Hei, apa kabar kau?”
“Fine, hyung..” katanya sambil tersenyum dengan manis. Memamerkan jejeran giginya yang putih bersih.
Dennis kembali memeluk pria itu. “Hwwaa~ bogoshipda!” melihat adengan di hadapannya, Dee dan Jules hanya berharap semoga orang tidak salah tafsir mereka sebagai ‘pasangan’ yang bertemu kembali setelah dipisahkan benua.
“Hyung?”
Dennis melepas rangkulannya dan menyadari ada dua orang gadis yang sedang menatap mereka tanpa mengerti keadaan. “Oh, perkenalkan, ini DeeDee dan Julia Adams.”
Marc tertegun melihat salah satu dari gadis yang diperkenalkan Dennis. Kilasan masa lalu menghantam benakknya. Tapi ia berhasil menguasai diri dengan cepat.
“Hi, I’m Marcus, call me Marc, please..”
“Hi!” kata Dee dan Jules berbarengan.
Marc mengerutkan keningnya, “Kalian..?”
“Um~ ceritanya panjang, Marc.” sergah Dennis. “Akan kuceritakan nanti begitu sampai ke rumah. Nathan sudah memasakkan jajamyun kesukaanmu.”
Marc tertawa boyish, membuat Dee terdiam seketika, ia sangat menyukai tawa ramah seperti milik Marc. Tawa yang bisa membuat orang lain ikut tertawa juga.
“Mana Andrew hyung?” tanya Marc excited, menutup raut wajah lelah yang bercokol di dirinya.
“Dia..” Dennis tampak ragu untuk mengatakannya, ia sedang mencari jawaban yang tepat. Tepat dan tidak menyakitkan.
Dan saat itulah Dee melihat keramahan wajah itu menguap. Senyum yang tadi diulas pun menghilang. Dalam sedetik, sosok Marcus berubah menjadi dingin, sangat dingin.
“Aku tahu, pasti sibuk dengan pekerjaannya..”
“Marc..” kata Dennis sambil menarik Marc yang hendak berpaling kea rah mobil yang akan membawa mereka kembali ke kediaman keluarga Choi.
Marc menepis tangan Dennis, ia tak membutuhkan penenang apapun. “Sudahlah hyung, aku tidak apa-apa. Ayo pulang! Perjalanan London-Seoul membuat tulangku remuk!”
Dennis tak dapat melakukan apapun untuk membuat suasana membaik. Sikap Marc yang seperti ini, Dennis tak bisa menyalahkan siapapun sebagai penyebabnya. Toh ia sudah tahu semuanya akan berjalan seperti ini. Semuanya hanya masalah waktu.

***

“Marc?” Dennis mengetuk pintu kamar Marc untuk mengajaknya makan malam. “Waktunya makan malam, ayo turun…”
Marc membuka pintu, sudah berganti pakaian dengan kaus longgar dan celana putih yang ada di lemari, ia terlalu lelah untuk membuka isi kopernya. “Apa hyung sudah pulang?”
“Tadi dia menelepon, katanya sedang dalam perjalanan”
Marc menghela nafasnya, ia tak tahu apa yang ada di pikiran kakaknya itu. Beginikah caranya menyambut adiknya yang baru pulang setelah dipisahkan benua selama hampir empat tahun?
Tapi ia berusaha mengenyahkan pikiran itu. Ia sudah mempersiapkan diri dan mental untuk sambutan Andrew yang seperti ini. Sekarang ada hal yang lebih menggelitik pikirannya dibanding absennya sang kakak di bandara tadi.
“Hmm~ kau belum cerita tentang kedua gadis itu, hyung,” Marc menyandarkan badannya ke sisi pintu. Ia sama sekali tak berniat mengajak Dennis masuk ke kamarnya.
“Dee dan Jules?”
Marc mengangguk.
“Aku tidak tahu detailnya, tapi kedua gadis itu hampir saja menggagalkan transaksi bisnis Andrew di salah satu bar. Dan Andrew memutuskan untuk membawa mereka kemari, katanya demi menjaga mulut mereka agar tetap terkunci, tapi aku sendiri tak yakin akan hal itu.”
“Andrew hyung tak pernah seperti itu sebelumnya.”
Kini bagian Dennis yang mengangguk, ia setuju dengan apa yang dikatakan Marc tentang Andrew. Selama ini ia tak pernah membawa urusan pekerjaan ke rumah. Pekerjaan adalah kantor, rumah adalah tempat istirahat. Lalu Dennis sadar, apakah perkataan itu kini sudah berubah? Apa karena gadis itu…
“Apa kau mempunyai pikiran yang sama denganku, hyung?” Marc membuyarkan lamunan Dennis. “Salah satu dari gadis itu…”

***

“Selamat malam..”
Sapaan itu terdengar dingin. Jangankan sebuah pelukan, bahkan senyum hangat saja tidak diberikan Andrew. Ia baru saja pulang kantor, terlihat dari setelannya yang masih rapi. Sebuah jas hitam dengan dasi lengkap. Ia menggenggam beberapa map di tangan kirinya. Wajahnya terlihat lelah.
“Malam hyung..”
“Bagaimana perjalananmu? Baikkah?”
Marc mengangguk, ia mengaduk malas jjamgmeon di hadapannya. Kehilangan selera. “Baik, hyung. Kau sendiri sepertinya sangat sibuk?”
Pertanyaan retoris Marc ternyata masih bisa dijawab Andrew,itu membuat kedua alis tebal Marc bertaut. “Iya, ada beberapa urusan yang mendadak harus diselesaikan..”
Dennis yang paham dengan keadaan tidak nyaman ini mencoba mencairkan suasana. “Ayo makan, Andrew. Kau belum makan, kan?”
Tapi ternyata sia-sia, Andrew tampak ‘nyaman’ dengan suasana ‘tidak nyaman’ ini. “Nanti saja, aku tidak lapar..”
“Padahal Nathan sudah membuatkan makanan kesukaanmu..”
“Mana bisa orang sepertimu menghargai orang lain.” Suara Jules menyeruak, ia yang juga berada di ruangan itu memutar bola matanya, sebal dengan sikap arogan Andrew yang sampai sekarang bukannya berkurang malah tambah menjadi. Ia heran, bagaimana ada yang bisa bertahan dengan sikapnya itu? dan lagi, adiknya baru saja pulang dari luar negeri, masa’ sambutannya sedingin ini?
Dee menyenggol adiknya, “Jules…”
“Excuse me?” Andrew tampak menahan kesalnya. Ruang makan bukanlah tempat yang tepat untuk berdebat, bukan?
“Are you dumb? Should I tell you twice?” tantang Jules, membuat Andrew yang sejak tadi mencoba menahan api emosi malah tersulut.
Lengan Marc menahan Andrew, moodnya sudah sangat jelek dan ia tak ingin memperburuk keadaan. “Sudahlah hyung, dia benar. “
“Kau membelanya, Marc?” Andrew menatap adiknya tak percaya. Tapi dari pada bertengkar dengan Marc atas sesuatu yang menurutnya tak penting diperdebatkan, Andrew memilih untuk meninggalkan meja makan dan menuju ruang kerjanya di lantai atas.
Marc melanjutkan [mengaduk] makannya, tapi ia sama sekali tak terlihat berselera. Dari wajahnya, semua yang ada di meja makan tahu apa penyebabnya. Tapi tidak ada yang berani menginterupsi. Itu akan sama saja dengan menaruh tangan berdarah di mulut buaya.
“I’m done!” Marc mengangkat serbet dan menaruhnya di atas meja. Dengan satu sentakan, ia memundurkan kursinya dan beranjak bangkit.
“Dennis oppa, bagian mana dari Marc yang ‘hangat’? Rasanya dia sama es batunya dengan Andrew!” celoteh Jules yang berhenti dari kegiatan makannya.

***

DeeDee tahu kalau Marc belum memakan apa pun semenjak dia menginjakkan kakinya di tanah air kemarin hingga siang ini. Semalam ia melihat makanan Marc masih lengkap, ia belum menyentuhnya sama sekali saat Andrew pulang dan terjadi pembicaraan yang tidak mengenakan. Dee pun kini sibuk memikirkan makanan apa yang bisa dia masak untuk Marc.
Hmm, sepertinya banyak pilihan.. Tapi bagaimana jika..
Dee tersenyum pada dirinya sendiri, sekarang dia sudah tahu masakan yang cocok untuk Marc.
Dengan sumringah, Dee berjalan menuju dapur. Di depan bar, Dennis sedang memotong-motong buah. Untuk dessert makan malam nanti sepertinya
Tak apa mungkin jika aku merecokinya sebentar, pikir Dee.
Baru saja ia mau menghampiri Dennis, ia melihat ada laki-laki lain yang juga berdiri di dapur, mengobrol dengan Dennis. Ia mengurungkan niatnya. Ketika ia akan melangkah kembali ke atas, ia mendengar sesuatu yang membuatnya berhenti.
“Kau sih, membuat Andrew murka sampai mengirimmu ke Jeju untuk bersembunyi! Memangnya yang kemarin itu terlalu susah ‘diselesaikan’ ya?”
Dee mengintip, Dennis yang tadi bicara. Siapa lawan bicaranya? Joshua kah? Dee tidak bisa melihat wajahnya karena orang itu membelakanginya.
“Ah hyung, andai kau lihat bagaimana sadisnya Andrew saat itu.. aku saja sampai gemetaran!”
“Seorang tangan kanan handal seperti Aiden Lee gemetaran? Hhaha”
Aiden Lee?
Dee mengerutkan keningnya. Dennis membicarakan Andrew seolah-olah ada yang disembunyikan. Ada yang dilakukan pria yang bernama Aiden ini yang membuat Andrew murka. Ada apa ini sebenarnya? Siapa mereka?
“Tapi sangat wajar, Ally adalah permatanya..” kata Dennis lagi. “Andrew tidak akan melepaskannya semudah itu! Anthony juga sampai kelabakan membelanya di pengadilan…”

Ally? Anthony?
Siapa mereka?

Pria yang dipanggil Aiden itu memutar tubuhnya, Dee bisa melihat wajah pria itu. Lumayan tampan dengan rambut cokelat gelap yang diberi aksen highlight cokelat yang lebih terang. Ia mengenakan kaus tanpa lengan berwarna biru dengan jaket abu yang disampirkan di bahunya, tampak sangat kasual karena dipadukan dengan jeans dan sepatu keds.

“Hhaha, orang seperti Andrew memang kadang sangat menakutkan.. sudah ya hyung, aku pergi dulu.. Josh hyung tadi menyuruhku untuk segera menemuinya!”
Dennis tersenyum, “Okee..”
Lalu pria itu pergi meninggalkan dapur. Ia berjalan menuju halaman belakang meyusul Josh karena tadi Dee melihat Josh sedang mengerjakan sesuatu di gazebo taman belakang. Sepeninggal pria itu, Dennis masih sibuk dengan kegiatannya tadi. Dee mengambil kesempatan ini untuk bicara. Ia mencoba menghalau pikiran-pikiran aneh mengenai pria tampan yang baru saja berlalu dari hadapannya dan focus dengan niatnya tadi.
“Oppa.. bisa bantu aku tidak?” tanyanya sambil menopang dagu di meja bar, bertatapan dengan Dennis.
“Bantu apa, Nona Adams?” tanya Dennis balik tanpa menghentikan kegiatannya mengupas apel. Ia tampak serius, seakan-akan dia sedang mengukirnya menjadi sebuah karya seni.
“Carikan aku sesuatu…”
Ia mengangkat kepalanya, “Mau minta carikan apa, Nona muda?”
“Sini aku bisiki oppa, ini rahasia!”
Dennis mendekatkan kepalanya ke arah Dee sampai gadis itu bisa mendekatkan mulutnya dengan telinga Dennis. Sebuah bisikan di telinga Dennis dari Dee.
Pria itu membelakakkan matanya, “Mwo? Kau yakin ada yang menjualnya di sini?”
“Pasti ada di supermarket import. Mau yaaa?” Dee mencoba sedikit bermanja-manja pada Dennis, mencoba mengambil hatinya dengan ke-aegyoan. Kata di majalah, ini selalu berhasil. “Kalau aku boleh keluar rumah, aku akan mencarinya sendiri, Oppa..”
“Dengan sebuah syarat tanpa penolakan!”
Dennis tersenyum nakal, ia ingin Dee melakukan sesuatu.
Dee memajukan bibirnya, “Oppaaa jangan paksa aku untuk menikahimu, kau tahu kan aku masih terlalu muda!”
“Hahahaha. Aku bukan pedofil!” Dennis menutup pisau yang tadi dipegangnya dengan casenya. “Imbalannya, kau potong-potong buah-buahan itu dengan bentuk yang cantik.”
Jujur saja, Dennis bukan orang yang mau bersabar untuk memotong-motong buah menjadi potongan kecil. Apalagi kalau bentuknya harus rapi. Kalau bukan Andrew yang minta, ia takkan mengiyakannya.
Dee menyorongkan tubuhnya, “Mau bentuk apa, oppa? Bunga? bintang?”
“Bagaimana kalau mobil-mobilan?” Dennis mencoba bercanda. Tapi ternyata Dee.
Dilipatnya tangan Dee di depan dada dengan angkuh, sok berpikir. “geuraeyoo, mau Jaguar, Aston Martin, atau Rolls Royce?”
Dennis melepaskan celemek yang dikenakannya lalu langsung dimasukkan ke laci setelah dilipat rapi. Ia selalu mengutamakan kerapian, sesuai yang selalu diminta Andrew. “Ya ampun Dee, aku bukan Andrew. Selesaikan saja tugas itu untukku, ok?”
“Berees.” Dee mengangkat kedua jempolnya, gaya dari pemain bola asal Korea Selatan, Cha Bong Goon. “Cepat berangkat, oppa! Hati hati di jalan, oppa sayaaang~”
Dennis yang tadi sudah mau pergi, berbalik.
“Jangan panggil aku ‘oppa’ dengan nada seperti itu. Menggelikan!!”

***
Sejam kemudian Dennis kembali dengan dua kantong plastik yang diterima Dee dengan wajah bahagia. Tapi tidak dengan Dennis, Ia harus bolak balik ke lima supermarket di pusat koya hanya untuk mendapatkan pesanan Dee.
Apa Dee tidak tahu daerah ini bukan di pusat kota? Baru Dennis sadari, gadis ini bahkan tidak tahu tepatnya di mana lokasi rumah ini.
Namun raut wajah sebal Dennis hilang ketika melihat cocktail berisi potongan potongan buah telah tersaji dalam mangkuk- mangkuk kecil. Tampak menggiurkan, dan juga sangat cantik
“Jangan dilihat seperti itu, nanti bentuknya rusak!” seru Dee dari balik dapur. Ia tetap bisa mengamati Dennis dari sana karena model open kitchen yang memudahkan aksesnya melihat siapa saja yang berdiri di bar dapur.
“Wae? Bagaimana bisa berubah? Apa karena buah-buah itu silau melihat ketampananku?”
Dee memutar matanya,
“Ergh! How could I like this narcist guy?”
Bagaimana aku bisa tahan dengan pria narsis ini sih?
“Because I’m irresistible..” Karena aku..begitu mempesona.
jawab Dennis simple, membuat Dee tambah gondok. Pria itu tampak menyukai raut sebal Dee. Menurutnya, kedua kakak-beradik itu terlihat berbeda jika mereka menampakkan muka sebal. Lebih menarik.
“Gyaaa~ Mr. Dennis Park, please..”
Dee meninggalkan Dennis dan kembali menyelesaikan apa yang baru saja dimulainya. Setelah selesai dengan pekerjaannya dengan berlembar-lembar fillet herring, Dee keluar dengan sepiring masakan yang wanginya menyeruak ke dalam indera penciuman Dennis.
“I’ve never seen this before, looks yummy..”Aku belum pernah melihat masakan ini sebelumya, sepertinya enak.
Dennis langsung berkomentar melihat hasil masakan Dee yang tampak enak dan tertata sangat rapi.
“Here’s for you, Oppa” Ini untukmu, Oppa

Dee mengangsurkan Dennis sepotong masakannya dalam sebuah garpu. “Bagaimana rasanya?”
“Wow, tanpa mayo tapi sangat enak!” Dennis menghabiskannya dalam satu gigitan. “Can I have another one please? Ada yang porsi double kan?”
“Maaf, tapi ini untuk pria yang baru pulang itu” Dee berkata seraya menaruh piring berisi makanan yg dibuatnya beserta segelas susu ke atas nampan.
“Aigoo, DeeDee Adams, kenapa kau?”
“Kenapa oppa?” tanya Dee polos. “Kau kan tahu dia tidak makan sejak kemarin..”
Dennis menyentuh dada kirinya, membuat mimik tersakiti. “Sungguh sekarang aku ingin jadi anak kuliahan yang baru pulang dari London! Kau menyakiti hati oppamu yang sangat tampan inii!”
Tatapan tidak percaya Dee ditujukan pada Dennis. Selain narsis, Dennis juga seorang penggombal ternyata. “Oppaa.. nanti siapa yang akan masak untuk kami kalau oppa kuliah lagi?”
Sepasang bulan sabit menggantikan mata Dennis yang menyipit karena tawa. “I’m kidding.” Dennis mendorong tubuh Dee agar cepat keluar dari dapur. “Ya sudah, antar sekarang Dee, nanti keburu dingin!”
Dee smiles cheerfully. “Okaay”

~To Be Continued~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s