Choi Chronicles Chapter 2: ‘AND’ TELLS IT LIKE IT IS BUT WHO’S ‘MARC’

“Dengarkan aku bicara, aku tak ingin diselak atau disanggah, mengerti?”
Dee dan Jules sudah duduk manis di ruang makan. Selain mereka, ada Dennis yang juga duduk makan di ruangan itu. sedangkan Andrew, meski ia sedang berada di tempat yang seharusnya menjadi tempat untuk makan, ia belum menyentuh makanannya sama sekali.
“Setelah apa yang kalian lihat malam itu, aku tak bisa berharap kalau kalian akan diam saja.Jadi, demi mereduksi kerugian yang akan aku alami, aku akan memastikan bahwa kalian akan menutup mulut.”
“Maksudmu?” tanya Jules bingung.
Andrew memberikan tatapan I’ve-told-you-to-shut-your-mouth dan meneruskan apa yang ingin disampaikannya.
“Aku tak suka menghilangkan jejak dengan menghilangkan nyawa, aku tak suka bisnisku terpercik darah. Jadi aku sudah memutuskan kalian akan tinggal di sini.”
“Mwo?” kali ini giliran Dee yang dibuat bingung.
“Kau dengar kan? Kalian akan tinggal di sini sampai batas waktu yang tak ditentukan.”
“Tapi kami punya kehidupan sendiri!” protes Dee tak terima menerima arogansi pria yang duduk angkuh di hadapannya.
“Aku sudah mengurus semuanya. Dee akan cuti dari perusahaannya dengan alasan melanjutkan studi ke luar negeri. Dan kau,” Andrew menunjuk Jules dengan telunjuk kanannya, Aku sudah mengajukan cuti kuliah dan aku juga sudah bicara pada bosmu untuk mencari penggantimu untuk bekerja part time di tokonya.
Mulai detik ini, kehidupan kalian adalah di rumah ini. Tidak ada pembicaraan lebih lanjut, sekarang tidurlah dan bersiap untuk besok. Adikku akan pulang dari London dan aku harap kalian dapat bersikap baik padanya.”
Andrew bangkit dari kursinya dan meninggalkan ruang makan tanpa menyentuh makanannya sama sekali. Dennis sempat bertanya apakah ia ingin makan malamnya diantar ke ruang kerjanya, namun ia menggeleng dan berkata ia tak berselera makan dan langsung pergi.

“What is he? Mafiosi ? So damn arrogant!”.
Dya pikir dirinya itu siapa?Mafiosi? Sombong sekali
Dennis tersenyum mendengarnya. As if she knows she’s…. .
Seandainya Jules tau kalau….

“Omona~ kau lihat betapa sombongnya dia onni?”
Dee terdiam. Ia tampak seperti sedang memikirkan sesuatu. Dennis yang tadi duduk di samping, kini mengambil posisi di tempat Andrew tadi duduk.
“Aku tahu Andrew mungkin agak kasar tadi.”
“Agak? Yang benar saja ajjushi, dia sangat kejam!” ujar Jules emosi.
“Ajjushi?” ulang Dennis.
“Em~ Maaf.”
Dennis tersenyum melihat raut bersalah yang terpampang di wajah Jules. “Ah, tak apa.. Aku memang jauh lebih tua dibanding Andrew.”
“Tapi jujur kau terlihat lebih awet muda dibanding dengannya”, aku Jules jujur. Membuat senyum Dennis semakin terkembang mendengarnya.
“Hhaha~ kau ini ada ada saja.”
“Dennis-sshi, panggil Dee perlahan, membuat Dennis menoleh ke arahnya. Apakah Andrew pemilik rumah ini adalah Andrew yang mewarisi perusahaan consumer good terbesar di Korea itu?”
Dennis tersenyum. “Akhirnya kau tahu juga.”
“Onnie bagaimana bisa tahu?”
“Apa kau ingat malam dimana kita pergi ke pub? Awal dari masalah ini? Aku sedang meeting dengan klienku, dan klienku itu adalah wakil dari perusahaan yang dimiliki Andrew… I’ve told you that it was a big company.” “Aku udah bilang kan, itu sebuah perusahaan besar”
Jules memutar bola matanya, “Pantas saja dia sombong!.”
“Makanlah kalian, aku sudah mempersiapkan sespesial ini untuk kalian.Andrew tak pernah makan di rumah, jadi aku jarang sekali menyiapkan makan malam.”
Sebuah suara hadir di antara mereka, seorang pria dengan jas lengkap berwarna hitam berdiri di samping Dennis.“Selamat malam, Dennis!”
“Oh, hai Joshua! Perkenalkan ini Deedee dan Julia.” Dennis mengenalkan kedua gadis itu pada pria yang bernama Joshua.“Hei, ini Joshua, asisten Andrew yang hampir 24 jam bersamanya.”
“Termasuk menemaninya tidur?” tanya Jules polos, membuahkan tawa dari yang lain.
“Hhaha~ kau ini bisa saja. Aku bahkan tak pernah dibiarkannya masuk ke kamarnya lebih dari 15 menit” canda Joshua. Ia lalu mengulurkan tangan kanannya. “Joshua Tan, asisten Andrew nomor satu yang paling tampan.”

“Deedee Adams, kau bisa panggil aku Dee.”
“Panggil aku Jules saja. Dan yah, kau memang tampan!”
Perkataan Jules membuat seisi ruangan meledak dalam tawa. “Selamat datang Dee dan Jules, aku sudah mendengar tentang kalian dari Dennis saat ia meneleponku tadi. Kalian lebih cantik dari yang diceritakan Dennis.”
“Hhahaha~”
Tak butuh waktu lama bagi keempatnya untuk larut dalam pembicaraan seru bagi orang yang baru kenal. Pembicaraan didominasi oleh cerita bagaimana Dee dan Jules bisa sampai di rumah ini. Dennis memperingatkan Dee agar menjauhkan adiknya dari alcohol, yang disambut gelak tawa oleh yang lainnya.
Dee melirik jam yang besar yang tergantung di dinding ruang makan. “Ah, sudah malam, sebaiknya kami tidur. Selamat malam oppa.. ayo Jules!”
“Malam juga..” sahut Dennis dan Joshua berbarengan.
Sepeninggal Dee dan Jules, Dennis dan Joshua duduk di kursi dan berbincang sebentar mengenai Andrew. Hari ini jadwalnya sangat sibuk, entah berkutat dengan urusan kantor ataupun dengan ‘bisnis sampingan’ yang dikelolanya.
“Hm~ sudah larut, aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dan meminta tanda tangan Andrew, aku permisi dulu, hyung..”
“Joshua, kau sudah makan?” Tanya Dennis sebelum Joshua pergi.
“Tadi aku sempat makan sedikit, mungkin nanti malam aku akan ke dapur untuk mencari camilan.”
“Begitu ya? Bisa tolong antarkan makan malam untuk Andrew? Dia belum makan semenjak pulang sore tadi.”
Joshua tampak berpikir sejenak, mengingat sesuatu. “Tadi siang juga ia tak menyentuh makanannya sama sekali. Dia sudah mulai lupa makan lagi sepetinya. Dulu Jessica selalu menyempatkan untuk mengingatkannya makan, sayang gadis itu memilih untuk hengkang dari samping Andrew.”
“Maka itu, tolong antarkan makanan ke ruang kerjanya,OK?”
Joshua tersenyum dan mengangguk.
“Baiklah hyung.. Oh ya, tentang Marc, jangan lupa masakkan makanan kesukaannya! Tadi dia meneleponku dan meminta menyampaikannya pada Nathan.”
“Baiklah, aku akan memberitahu Nathan! Selamat malam Joshua!”
Joshua melambaikan tangannya, “Malam Dennis hyung!”

Andrew terlihat sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Dia tampak senang, terlihat dari senyum yang terkembang di bibir tipisnya. Namun senyumnya berangsur menghilang.
“Delay?” Andrew membuang pandangannya ke arah taman, “Kau mau aku mengirimkanmu pesawat lain, Marc?”
“Hmm~ baiklah, beritahu aku begitu pesawatmu bisa berangkat,OK? Jadi aku bisa meminta Dennis hyung menjemputmu. Bye!”
Andrew berbalik, Dennis sudah berdiri di ambang pintu menunggunya, “Is it Marc?”
Apa itu Marc yg menelepon?
“Ya.. katanya pesawatnya delay karena cuaca buruk.”
“Jadi kami tak perlu menjemputnya nanti sore?” tanya Dennis sambil membenahi beberapa file yang tertata berantakan di meja Andrew.
Alis Andrew berkerut, “Kami?”
“Ya, aku dan kedua gadis cantik itu.” Dennis tersenyum, berhenti dari kegiatannya.“Kemarin kau bilang aku harus mengajak mereka, bukan?”
“Ah, iya.” Andrew menepuk keningnya.“Aku lupa, hyung. Pokoknya nanti Marc akan menelepon lagi jika pesawatnya sudah bisa berangkat.”

***

“Apanya yang tidak jadi?” tanya Dee pada Dennis ketika Dennis mengatakan meeka tidak jadi pergi. Mereka kini sedang berada di dapur, menemani Dennis yang sedang bereksperimen dengan sesuatu yang berbau seperti masakan Jepang.
“Tidak jadi menjemput Marc.”
Jules yang mendengarnya ikut penasaran,“Marc itu siapa? Kenapa kita harus menjemputnya?”
“Marc? Dia adik laki laki Andrew. Dia akan pulang karena studinya sudah selesai.”
“Really? Lalu di mana dia kuliah?” Jules mendekat dan menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertumpu di meja dapur.
“Jules! Berhenti menggerecoki Dennis-sshi dengan ocehanmu!” suara Dee menginterupsi dari balik kulkas. Karena Jules sama sekali tak berpengalaman dengan hal yang dinamakan dapur, ia memilih menyingkir dan memperhatikan saja. Daripada mengacau dan membuat Dee murka.
“Tidak apa, Dee. Aku senang Jules bisa seceria ini.”

“Dengar kan, onni?” kata Jules melirik kakaknya. Lalu ia beralih lagi ke Dennis. “Jadi, jadi, si Marc ini kuliah di mana?”
“Oxford!”
“Oxford?” Dee menyembulkan kepalanya dari belakang. Radarnya seakan menguat ketika mendengar kata ‘Oxford’.
“Aish onni, mendengar kata ‘Oxford’ otakmu langsung nyala! Sudahlah, hentikan obsesimu akan semua Oxonian. Ingat! Pak Menlu-mu yang tampan itu sudah punya istri!”
‘Pletak!’
Sebuah wortel mendarat di kepala Jules.
Cemoohan Jules tentang Dee dan pria pujaannya membuat Dennis tertawa. Seumur-umur hidup dikelilingi oleh para pria, kedatangan Dee dan Jules membuat harinya lebih berwarna.
“Kau juga kuliah di Oxford?” tanya Dennis pada Dee yang sekarang ikut melakukan hal yang sama dengan Jules. Duduk melipat tangan di atas meja dapur sembari memperhatikan Dennis.
“Yang benar saja, kalau aku kuliah di Oxford, aku takkan terdampar di sini!”
“Hhaha~”
“Dennis-sshi, berarti Marc ini sangat pintar, ya?” tanya Dee lagi. Ia semakin penasaran dengan sosok Marc yang diceritakan Dennis ini.
Dennis mengangguk. “Marc memang sangat pintar di bidang akademis. Aku sangat kagum akan kemampuannya menyerap pelajaran, padahal ia selalu menghabiskan waktu senggangnya untuk main game!”
“Wah~ keren sekali!” decak Jules penuh kagum. Kali ini Dee setuju dengan adik kecilnya.
“Tentu saja! Marc memang pintar, itu alasannya kenapa Andrew memintanya untuk kembali ke Korea.”
“Memang kenapa?” Dee memiringkan kepalanya, tak mengerti.
“Dengan otaknya, Andrew yakin Marc dapat memajukan perusahaan keluarga mereka. Tapi tampaknya itu akan susah..”
“Susah bagaimana?”
Dennis menghela nafas, “Andrew memang sudah dipersiapkan ayahnya untuk melanjutkan bisnis keluarga karena dialah putra pertama keluarga ini. Tapi akan susah mengajak Marc untuk berkecimpung di dunia bisnis seperti kakaknya.
“Marc lebih mencintai musik ketimbang berurusan dengan bisnis. Sebenarnya, kuliah di Oxford dipilih Marc agar dia bisa keluar dari segala fasilitas yang bisa diberikan Andrew. Dan agar Marc bisa bebas bermain musik…” terang Dennis, Jules dan Dee hanya manggut-manggut seperti boneka mobil.
“Wow~ sepertinya Marc pria yang baik dan menyenangkan..”
“Iya, Marc itu orang yang hangat dan periang, seperti Jules!”
Jules memberikan sebuah senyuman aegyo yang hampir saja membuat Dee muntah di tempat.
“Hhaha~ berbeda sekali dengan Andrew yang dingin ya?” Dee kembali membantu Dennis memasak. Salah satu keahlian yang sangat ia banggakan sebagai seorang wanita karir.
“Andrew? Eum~ hard to say, soalnya Andrew dan Marc pribadi yang berbeda. Walau begitu, Andrew tipe orang yang sangat perhatian dan sensitive.”
“Sensitive bagian mananya?” Jules mengimitasikan gerakan-gerakan yang sering dilakukan Andrew dan langsung membuat yang lain tertawa.
“Hyung! Marc-hyung tadi menelepon, katanya pesawatnya akan sampai besok pagi” teriak Nathan dari ruang tengah,

Dennis membuat isyarat dengan jempolnya.
“Oh, terima kasih Nath!” lalu ia beralih ke Dee dan Jules lagi. “Jadi, kalian harus siap siap ya, besok pagi!”
“Tapi kenapa kami harus ikut?” tanya Dee. Ia masih bingung akan situasi di rumah ini yang tampak sangat bias.
“Because Andrew said, then you should!”
Karena Andrew sudah bilang begitu, maka kalian harus mau!

Kedua nona Adams memutar mata mereka dengan bersamaan sambil mendesis, “Geezz~”
***

-To Be Continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s