Choi Chronicles Chapter 1 “FIRST ENCOUNTER”

Hallo! Duet Maut balik lagi nih!. As we’ve promised you before, we’re back with chapter 1!
Hehehehehehe
HAPPY READING!
……………………………..CHOI CHRONICLES…………………………………………..

“Onnie~” suara parau Jules memecah keheningan yang tercipta dalam ruangan dingin dan lembab itu. Di sampingnya, Dee hanya bisa menatap nanar adiknya. Posisi mereka sama, sama-sama terikat oleh tali yang simpulnya cukup kuat.
“Hold on, sist..” Hanya itu yang bisa ia katakan, karena ia sendiri pun tidak tahu apa maksud dari semua ini.
Pintu berderit terbuka, cahaya dari luar menerawang masuk ke dalam ruangan sehinga bagian dalam dari arah pintu dimana Jules dan Dee tergolek lemah tersorot cahaya. Sesosok pria masuk dengan hentakan kaki yang dalam dan penuh keanggunan.

Namun di sisi lain, Jules dan Dee menyadari langkah kaki itu bisa saja menjadi akhir dari segalanya.
Pria itu berjalan menuju mereka berdua dan ketika ia berjarak tak kurang dari satu meter di hadapan kedua gadis itu, ia berjongkok dan menatap keduanya dengan tatapan meremehkan.
“Jadi Nathan, dua gadis ini yang hampir membuat transaksi kita gagal?” Tanyanya sarkastik pada pria yang berdiri di belakangnya. Pria bernama Nathan ini terlihat lebih penakut dan tidak sepercaya diri bosnya.
“Y-yya..” Jawabnya terbata.
Pria itu lalu mendekat dan membisikan sesuatu ke telinga salah seorang gadis. “Beraninya kau mengganggu pekerjaanku.. Apa kau pernah berpikir bahwa ini adalah akhir dari hidupmu?.”
“Bukan dia! Kakakku tidak berslah, aku yang mengganggu anak buahmu!”,selak sebuah suara. Jules menatap pria itu sengit sedangkan Dee hanya bisa menatap adiknya nanar. Jantungnya masih berdegup kencang saking takutnya. Tapi ia juga tak mau adiknya terlibat lebih dalam. “Jules!”
“Oh, jadi namamu Jules? A sweet name, I think. Tapi rasanya kelakuanmu itu sangat out of manner, bukan?.”
“Bagian mana yang out of manner? Bagian ‘menculik-gadis-yang-tak-bersalah-dan-mengurungnya-tanpa-alasan’ maksudmu?.”
“Cih! Kau ini benar benar cari masalah!.”
“Jadi mengapa tak kau lepaskan kami saja supaya aku berhenti mencari masalah denganmu?.” tantang Jules pada pria itu. Membuatnya semakin marah.
“Kau pikir kau bisa keluar dari sini setelah mengatakan hal yang tidak sopan seperti itu padaku?.”
Pria itu lalu mendekat ke arahnya dan mengangkat dagu Jules. Cahaya dari pintu masuk menerangi wajah Jules dan seketika itu juga pria itu terdiam dan melepaskan tangannya dari dagu Jules.
Ia mundur sedikit dan bangkit, dari geraknya terlihat sekali ia merasa terganggu dan ingin segera meninggalkan ruangan lembap dan gelap itu. Meninggalkan kedua gadis yang hampir mati lemas saking sumpeknya ruangan itu.
“Nathan, get them outta here and bring to the main house, tell Dennis to set everything up for them.
Nathan, ajak mereka keluar dari sini, dan bawa mereka masuk ke dalam rumah. Beritahu Dennis untuk menyiapkan semuanya

***

Dari ruangan sumpek dan lembab yang selama dua hari ini mengurung mereka, Jules dan Dee dipindahkan ke dalam sebuah rumah yang sangat besar. Mereka sempat ternganga melihat betapa besar dan mewahnya rumah yang mereka masuki sekarang.
“Nathan, whose house is this?”Nathan, rumah milik siapa ini?” tanya Dee pada Nathan yang berjalan di depan mereka.
“Ini kediaman keluarga Choi, noona. Noona tak pernah dengar sebelumnya?”
Dee menggeleng. Sama sekali tak pernah mendengar atau tahu tentang keberadaan keluarga ini. Padahal seharusnya hanya orang pentinglah yang dapat meiliki rumah semewah ini.
“Noona, aku minta maaf karena memperlakukanmu dengan sangat tidak baik dua hari ini. Sumpah noona, aku tak berniat melakukan hal ini” kata Nathan penuh penyesalan.
Dee tesenyum dan menepuk punggung Nathan hangat. “Tak apa Nathan, aku mengerti posisimu..”
Senyuman Dee dibalas senyuman yang sama oleh Nathan. Namun senyumnya sirna ketika melihat muka Jules yang dilipat sebal.
Dee tertawa. “Jangan pikirkan Jules, dia masih kesal karena kau lebih memilih melakukan tugasmu daripada menolong kami.”
“Onnie, jangan bela dia terus dong! Wajar aku kesal karena dia lebih memihak orang yang baru dikenalnya daripada teman yang sudah dikenalnya semenjak ia masih suka main layangan!” ucap Jules emosi. Ia menatap sengit Nathan yang hanya dibalas cengiran.
“Sudah disekap selama dua hari dan nona besa ini masih bisa berkicau? Aku takjub akan adikmu, noona!”
“Hya! Oppa!” Jules sudah siap meluncurkan makiannya pada Nathan namun Dee menahannya.
“Sudahlah Jules..”
Kedatangan mereka disambut oleh seorang pria yang memakai kemeja putih. Pria itu tampak sangat tampan dan terlihat rapi.
“Jadi ini dua nona yang akan menempati kamar tamu?”
“Kami?” Dee dan Jules saling berpandangan.
“Tentu saja, selamat datang di kediaman keluarga Choi. Perkenalkan aku Dennis Park, kepala rumah tangga di sini. Aku yang akan mengatur kebutuhan kalian selama di sini” sapanya dengan sangat ramah. Membuat Dee dan Jules memutar kedua bola mata mereka.
Bagaimana bisa ada orang dengan senyum seindah ini?

***

Dee mengingat kejadian dua malam lalu, dirinya dan Jules sedang menghibur diri di salah satu pub yang lumayan ramai. Suasananya begitu hangat, membuat Jules dan Dee terbuai akan hentakan musik.
Dee sedang dalam meeting di pub itu. Pekerjaannya sebagai seorang creative director memintanya untuk selalu siap meluncurkan ide-ide baru demi kepuasan klien. Dan saat itu, sang klien meminta meeting mereka dilakukan si salah satu bar yang lumayan terkenal di Seoul.
Tak bisa meninggalkan adiknya sendirian di rumah, Dee pun mengajak Jules untuk ikut serta. Namun rupanya Jules bukan tipe orang yang bisa ditinggal di bar sementara Dee menghadiri meetingnya.
Jules mabuk dan membuat Dee kewalahan untuk mengajaknya pulang. Satu hal yang ia benci dari adiknya adalah, Jules tak pernah bisa menahan godaan untuk mencoba sesuatu yang baru.
Dari situlah semuanya dimulai. Jules yang mabuk kehilangan kesadaran dirinya, ia menabrak seseorang dan ternyata itu adalah Nathan, teman kecil mereka dulu. Nathan menjatuhkan apa yang dibawanya dari dalam dalam tas yang digenggamnya.
“Wow, oppa! Apa itu?” Tanya Jules sambil menunjuk ceceran serbuk putih yang berhamburan di lantai. Wajah Nathan memucat. Sama seperti Dee yang langsung tahu apa yang baru saja ditabrak adiknya.
Dan semuanya berakhir di sini, di tempat yang disebut Nathan sebagai kediaman keluarga Choi-atau siapapun itu. Jules dan Dee diminta ikut bersama beberapa teman Nathan dan ternyata mereka disekap karena mereka sudah mengetahui apa yang dibawa Nathan.

“Onnie?” Kepala Jules menyembul dari balik pintu. Sama seperti dirinya, Jules kini telah bersih dari kotoran yang dua hari ini menempel di badan mereka.
“Masuklah..” Dee mengelap rambutnya yang basah dengan sebuah handuk sedangkan badannya masih tertutupi bathrobe putih yang tersedia di kamar mandi tadi.
“Aku kira kita akan dibunuh, hha~”
“Kau ini! Terlalu banyak menonton film otakmu jadi terkontaminasi.”
“ahhaha~ onni~”
Pintu diketuk, Dee dan Jules saling berpandangan. Lalu sebuah suara terdengar dari luar.
“Noona, bukakan pintunya! Aku mengantarkan baju untuk kalian.”
Keduanya menghela nafas lega setelah mengetahui itu suara Nathan. Dee beranjak dari tempatnya dan membuka pintu.
“Aish, noona, lama sekali sih?.”
“Ha~ ayo masuk Nate, aku pikir kami akan selamanya memakai bathrobe.”
“Noona bisa saja, Andrew memang sedikit dingin, tapi ia tak sekejam itu kok!.”
Dee mengerutkan keningnya, “Andrew?”
“Iya, yang tadi bertemu dengan noona di pavilion itu lho, yang bertengkar dengan Jules.. Namanya Andrew, ia pemilik rumah ini. Dan dia juga bosku, noona.”
“Jadi namanya Andrew?”
“Hush~ Jules, jaga omonganmu. Kalau dia dengar kau bisa ‘selesai’ tahu!”
“Kalau aku tahu apa?” tiba-tiba suara menyeruak dari balik pintu yang terbuka.Andrew sudah berdiri di sana dengan pakaian rapinya. Membuat Dee tergagap untuk menjawabnya.
“Ah~ itu, eum~ aku..”
“Sudahlah, aku tak peduli.” katanya angkuh.“Cepat ganti baju dan makan malam di bawah. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan. Nate, kau ikut aku sekarang..”
“Permisi, noona..” pamit Nathan pada Dee, tidak pada Jules karena percuma saja pamitan padanya jika suasana hatinya sedang buruk.
“Onni kenapa sih? Perasaan kok kau lembek sekali padanya? Jangan bilang kau suka padanya, onni?”
Sebuah jitakan mendarat di puncak kepala Jules.“Enak saja kau! Ayo cepat ganti baju, aku tak mau disemprot lagi oleh pria itu!”.

-To Be Continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s